BERITA TERKINI
Laporan: Ketegangan Timur Tengah Tekan Biaya Logistik dan Energi, Vietnam Hadapi Dampak Berantai

Laporan: Ketegangan Timur Tengah Tekan Biaya Logistik dan Energi, Vietnam Hadapi Dampak Berantai

Fluktuasi global dinilai kian memengaruhi perekonomian Vietnam, terutama melalui jalur perdagangan, energi, dan logistik. Hal itu disoroti dalam laporan yang dirilis Institut Penelitian Strategis dan Kebijakan di bidang Industri dan Perdagangan pada sore hari, 6 Maret, mengenai situasi sosial-ekonomi global dan domestik yang berdampak pada perkembangan industri, energi, dan perdagangan Vietnam.

Dalam laporan tersebut disebutkan, ketegangan militer di Timur Tengah menimbulkan dampak berantai bagi Vietnam karena tingkat keterbukaan ekonominya yang tinggi. Konflik yang masih berlangsung turut menempatkan Selat Hormuz—yang dianggap sebagai “titik kritis” perdagangan minyak global—dalam risiko, sehingga berpotensi memicu tekanan inflasi. Kondisi ini juga disebut mendorong harga minyak mentah Brent ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Selain risiko pada pasokan energi, situasi di Timur Tengah disebut telah menyebabkan biaya logistik meningkat tajam. Wilayah konflik merupakan jalur pelayaran penting antara Eropa dan Asia, sehingga gangguan keamanan berdampak pada lonjakan tarif pengiriman dan asuransi maritim. Kenaikan tersebut dinilai secara langsung menaikkan biaya input bagi industri Vietnam yang padat energi dan padat logistik.

Laporan itu juga menyoroti peningkatan biaya asuransi maritim dan tarif pengiriman, terutama pada rute Asia–Eropa dan Asia–Amerika, yang disebut meningkat secara dramatis. Tekanan biaya ini berpotensi menambah beban bagi sektor produksi dan distribusi yang bergantung pada kelancaran rantai pasok internasional.

Di sisi kebijakan perdagangan, laporan mencatat keputusan Amerika Serikat membatalkan tarif pembalasan 20% sebelumnya berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA), lalu menggantinya dengan tarif global 10% berdasarkan Bagian 122 Undang-Undang Perdagangan 1974. Kebijakan tersebut disebut memiliki dampak dua arah bagi industri dan perdagangan, serta saat ini disebut tengah dipertimbangkan untuk dinaikkan menjadi 15%.

Dalam jangka pendek, penurunan tarif impor ke Amerika Serikat dari sekitar 20% menjadi 10% dinilai membantu pelaku ekspor Vietnam mengurangi tekanan biaya. Dampak ini disebut dapat mendukung keberlanjutan pesanan dan produksi di sejumlah industri pengolahan dan manufaktur.