Asia dinilai masih menjadi mesin pertumbuhan utama dunia seiring meningkatnya kontribusi kawasan tersebut terhadap produk domestik bruto (PDB) global. Kesimpulan itu disampaikan dalam laporan yang dirilis Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) pada Selasa (24/3).
Dalam laporan bertajuk Asian Economic Outlook and Integration Progress Annual Report 2026, ekonomi Asia diproyeksikan tumbuh 4,5 persen pada 2026. Pangsa Asia terhadap PDB global tahun ini, berdasarkan paritas daya beli, disebut naik menjadi 49,7 persen dari 49,2 persen pada 2025.
Sekretaris Jenderal BFA Zhang Jun mengatakan banyak pihak meyakini “Abad Asia” telah tiba. Ia menambahkan, meski menghadapi berbagai tantangan signifikan, ekonomi Asia dinilai tetap tangguh dengan prospek positif serta terus memberikan kontribusi penting bagi ekonomi global, perdagangan internasional, dan pembangunan berkelanjutan.
BFA didirikan pada 2001 sebagai organisasi internasional nonpemerintah dan nirlaba yang bertujuan mendorong integrasi ekonomi regional serta mendekatkan negara-negara Asia pada target pembangunan. Konferensi tahunan BFA tahun ini berlangsung pada 24–27 Maret di Provinsi Hainan, China selatan, dengan tema “Membentuk Masa Depan Bersama: Dinamika Baru, Peluang Baru, Kerja Sama Baru”.
Laporan tersebut juga menyebut Asia tetap menjadi tujuan utama investasi asing langsung (FDI) global, didorong oleh ketahanan, potensi pertumbuhan, serta daya tarik jangka panjang kawasan ini bagi investor. China dan ASEAN disebut memimpin sebagai destinasi yang paling menarik.
Dari sisi teknologi, laporan itu menyoroti pergeseran pusat pengembangan kecerdasan buatan (AI) global yang secara bertahap bergerak dari Eropa dan Amerika Serikat ke Asia. Dengan populasi digital yang besar, ekosistem aplikasi yang beragam, serta kerangka kebijakan yang dinilai koheren, sejumlah perekonomian Asia disebut berkembang cepat dari pengikut menjadi pelopor AI.
Mitra riset Deloitte China Lydia Chen menilai rantai industri AI kian luas dan kompleks, dengan berbagai negara di Asia memiliki keunggulan masing-masing pada sektor vertikal yang berbeda. Menurutnya, kolaborasi di tingkat industri, perangkat lunak, data, dan kebijakan dapat membantu mempermudah serta mengefisienkan arus faktor-faktor kunci.
Selain itu, BFA meluncurkan laporan mengenai pembangunan berkelanjutan di Asia yang menilai kawasan tersebut muncul sebagai kekuatan penting dalam pergeseran global menuju energi yang lebih ramah lingkungan dan rendah karbon. Asia disebut bergerak dari “pusat konsumsi energi tradisional terbesar” menjadi “pemimpin dalam pengembangan energi bersih”.
Dalam aspek integrasi kawasan, laporan menyebut fondasi integrasi perdagangan Asia terus menguat. Ketergantungan perdagangan intrakawasan tercatat naik dari 56,3 persen pada 2023 menjadi 57,2 persen pada 2024, seiring perekonomian utama di kawasan semakin memperkuat hubungan dagang satu sama lain.
Laporan itu menambahkan, perekonomian Asia-Pasifik cenderung bergeser dari integrasi individual dalam rantai nilai global menuju model integrasi regional bersama. Sejumlah negara disebut meningkat posisinya dalam rantai nilai dengan dukungan dari dalam kawasan.
Dengan meningkatnya investasi pada infrastruktur digital, besarnya permintaan dari pasar Asia, serta semakin dalamnya integrasi ekonomi, Asia dinilai bertransformasi dari sekadar partisipan dalam perdagangan jasa global menjadi salah satu mesin utama pertumbuhannya.
Denis Depoux, direktur pelaksana global Roland Berger, menggambarkan Asia sebagai mercusuar pertumbuhan global dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai China berperan kuat dalam tren tersebut, didorong oleh terobosan teknologi yang signifikan.
Sementara itu, Sang Baichuan, dekan Institut Ekonomi Internasional di University of International Business and Economics, mengatakan China terus memperluas keterbukaannya terhadap dunia, termasuk dengan mendorong bentuk baru globalisasi ekonomi yang inklusif dan menguntungkan bagi semua. Menurutnya, keterbukaan tersebut memungkinkan pasar China yang besar memberikan lebih banyak peluang bagi perekonomian Asia dan dunia.
Ia menambahkan, dampaknya kohesi internal ekonomi Asia diperkirakan semakin menguat dan ketahanannya terhadap guncangan eksternal meningkat. Rebecca Fatima Sta Maria, mantan direktur eksekutif Sekretariat APEC, juga menekankan mekanisme kerja sama regional sebagai instrumen penting untuk menjaga keterbukaan dan memberikan kepastian kebijakan, yang dinilai dapat menarik investasi serta mendorong pembangunan berkelanjutan jangka panjang.
Tahun ini juga menandai “Tahun China” APEC dengan tema “Membangun Komunitas Asia-Pasifik untuk Kemakmuran Bersama”. China dijadwalkan menjadi tuan rumah Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC ke-33 pada November mendatang.

