Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 dipastikan tetap berlangsung pada 8–9 Mei 2026 di Cebu, Filipina. Pertemuan para pemimpin negara Asia Tenggara ini akan memprioritaskan pembahasan krisis minyak global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. mengatakan keputusan untuk tetap menggelar KTT diambil setelah berkonsultasi dengan para pemimpin negara anggota ASEAN. Hasil konsultasi tersebut menyepakati bahwa pertemuan tidak ditunda meski tekanan ekonomi global meningkat seiring lonjakan harga energi.
“Pertanyaan yang saya ajukan sederhana, apakah KTT perlu ditunda karena krisis minyak akibat perang di Timur Tengah? Jawabannya, tidak,” kata Marcos, Jumat (27/3).
Menurut Marcos, agenda KTT akan difokuskan pada isu-isu yang terdampak langsung oleh krisis global, terutama sektor energi. Selain pasokan minyak dan produk turunannya, para pemimpin ASEAN juga akan membahas ketahanan pangan serta perlindungan pekerja migran.
Marcos menjelaskan eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan berpotensi mengganggu rantai pasok global. Karena itu, ia menilai ASEAN perlu menyusun langkah kolektif untuk menjaga stabilitas energi di kawasan.
“Kita akan menentukan langkah ke depan, bagaimana saling membantu, dan bagaimana posisi ASEAN menghadapi berbagai guncangan global,” ujarnya.

