BERITA TERKINI
KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan RI Terjaga pada Triwulan I 2026 di Tengah Ketidakpastian Global

KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan RI Terjaga pada Triwulan I 2026 di Tengah Ketidakpastian Global

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada triwulan I 2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan asesmen KSSK, volatilitas pasar keuangan global meningkat seiring lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok perdagangan dunia. Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi mengatakan KSSK akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

“KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi,” kata Friderica.

Di tengah tekanan global tersebut, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,39 persen. KSSK menyebut pertumbuhan ditopang percepatan belanja pemerintah, peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, serta program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Sekolah Rakyat, dan hilirisasi industri.

KSSK memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 dapat mencapai 5,4 persen atau lebih. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika global. Sinergi kebijakan pemerintah dan seluruh anggota KSSK terus diperkuat agar momentum pertumbuhan tetap terjaga,” ujar Friderica.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar USD5,5 miliar pada periode Januari–Maret 2026. Namun, tekanan global disebut memicu arus modal asing keluar sebesar USD1,7 miliar pada triwulan I 2026 dan mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Bank Indonesia melakukan penguatan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar valuta asing serta penguatan instrumen moneter. KSSK menyebut rupiah tetap terkendali pada kisaran Rp17.415 per dolar AS pada awal Mei 2026.

Friderica juga menyampaikan sektor jasa keuangan nasional dinilai tetap resilien. Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen menjadi Rp8.659 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross terjaga di level 2,1 persen. Permodalan perbankan juga disebut kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 25,09 persen.

Di pasar modal, penghimpunan dana korporasi hingga awal Mei 2026 tercatat mencapai Rp59,35 triliun. Sementara itu, jumlah investor pasar modal meningkat menjadi 24,74 juta single investor identification (SID).

Ke depan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pemerintah, BI, OJK, dan LPS berkomitmen memperkuat coordinated policy response untuk memitigasi berbagai risiko terhadap perekonomian dan mendukung program prioritas pemerintah demi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Friderica.