Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional kembali menghadapi tekanan biaya produksi di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi tersebut memicu ketegangan global dan mulai berdampak pada sektor manufaktur di Indonesia.
Sentimen global yang dipengaruhi kenaikan harga minyak—yang disebut terjadi antara lain akibat penutupan Selat Hormuz—menimbulkan efek berantai ke berbagai sektor industri. Industri tekstil menjadi salah satu yang terdampak, dengan harga bahan baku dilaporkan melonjak hingga 40%.
Kenaikan tersebut menimbulkan kekhawatiran pelaku usaha terkait keberlangsungan bisnis, mengingat biaya produksi terus meningkat. Kenaikan harga minyak dunia disebut menjadi pemicu utama naiknya harga sejumlah bahan baku tekstil.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menyampaikan, harga paraxylene—bahan baku utama poliester—telah mencapai sekitar USD 1.300 per ton. Nilai itu disebut naik sekitar 40% dibandingkan dua pekan sebelumnya.