Konflik di Timur Tengah meluas sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Perkembangan ini dengan cepat menyeret sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi personel militer AS, serta Lebanon, ke dalam pusaran eskalasi.
Hingga 9 Maret 2026, laporan dari berbagai otoritas negara menunjukkan jumlah korban jiwa terus bertambah. Dikutip dari Reuters, organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah melaporkan sedikitnya 1.230 orang tewas di Iran.
Salah satu peristiwa paling mematikan terjadi pada hari pertama perang. Serangan rudal dilaporkan menewaskan 175 siswi dan staf sekolah dasar di Minab. Di luar korban sipil, militer Iran juga dilaporkan kehilangan 104 personel setelah sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka pada pekan lalu.
Di Lebanon, Kementerian Kesehatan setempat mencatat sedikitnya 394 orang tewas akibat serangan udara Israel. Dari jumlah tersebut, 83 korban dilaporkan merupakan anak-anak. Sementara di Irak, korban tewas mencapai 15 orang, termasuk seorang komandan faksi bersenjata pro-Iran yang dilaporkan tewas dalam serangan udara pada 5 Maret.
Dari pihak Israel, otoritas setempat melaporkan dua tentara tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan. Israel juga mencatat 11 warga sipil tewas akibat serangan balasan Iran, dengan sembilan di antaranya meninggal akibat hantaman rudal di dekat Yerusalem.
Militer AS mengonfirmasi tujuh personelnya tewas selama operasi militer berlangsung.
Dampak konflik juga dilaporkan menjalar ke negara-negara tetangga. Kuwait melaporkan seorang anak-anak tewas serta empat petugas keamanan meninggal saat bertugas. Arab Saudi mencatat dua kematian warga sipil di Al-Kharj, sementara Uni Emirat Arab mengonfirmasi empat orang tewas.
Korban jiwa turut dilaporkan di Suriah sebanyak empat orang dan di Bahrain satu orang. Di Oman, satu orang dilaporkan tewas setelah sebuah proyektil menghantam kapal tanker di lepas pantai Muscat.

