Suasana berbeda terlihat di sudut lapangan Desa Giyanti saat Balai Desa tengah ramai oleh kegiatan Posyandu Balita. Di tengah keramaian itu, sebuah pertemuan koordinasi justru berlangsung di bangunan kayu sederhana yang biasa digunakan sebagai pos kamling.
Dalam pertemuan tersebut, dosen pembimbing lapangan KKN IAI Al-Muhammad, yakni Adi Kusmianto, Ruslan, dan Joko Widodo, bertemu dengan Ir. Siswanto yang merupakan Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Blora sekaligus Dewan Penyantun STTR Cepu. Diskusi juga didampingi oleh Heri Ireng selaku Penyuluh Sosial Unit Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Sosial RI serta Harno selaku Babinsa Desa Giyanti.
Pertemuan di ruang sederhana itu menjadi wadah pembahasan peningkatan relasi yang dinilai positif dan produktif antarkampus maupun antarinstansi. Tanpa suasana formal birokrasi, para peserta berdiskusi di atas lincak kayu dengan komunikasi yang lebih setara dan terbuka.
Pemilihan pos kamling sebagai tempat koordinasi dipandang mencerminkan upaya mendekatkan aktivitas akademik dengan realitas sosial di tingkat desa. Dalam situasi tersebut, pertukaran gagasan berlangsung tanpa sekat protokoler, sehingga keputusan dan rencana yang dibahas diharapkan lebih membumi dan sesuai kebutuhan masyarakat Desa Giyanti.
Kehadiran Ir. Siswanto memberi dimensi kebijakan dalam pembahasan, mengingat perannya di legislatif sekaligus sebagai dewan penyantun kampus. Sementara itu, pendampingan dari unsur sosial dan keamanan melengkapi diskusi yang tidak hanya menyentuh aspek teknis KKN, tetapi juga mengarah pada penguatan kolaborasi lintas sektor untuk pembangunan manusia di wilayah Cepu Raya.
Koordinasi yang berlangsung di pos kamling tersebut sekaligus menjadi contoh bagi warga mengenai cara berkomunikasi dan berkolaborasi dalam keterbatasan. Desa Giyanti menjadi lokasi pertemuan yang menunjukkan bahwa gagasan dan kerja sama antarlembaga dapat dibangun melalui ruang publik yang sederhana.

