Jakarta — Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai relatif stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut stabilitas tersebut terutama ditopang konsumsi domestik serta stimulus fiskal pemerintah.
Nico menilai revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh lembaga global lebih banyak dipicu faktor eksternal, terutama kenaikan harga energi dan konflik geopolitik. Meski demikian, ia memandang risiko perlambatan tidak akan terlalu dalam karena konsumsi domestik dan stimulus fiskal masih menjadi penopang utama. Menurutnya, ekonomi cenderung melambat secara moderat, bukan mengalami penurunan tajam.
Di tengah konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, Nico mengatakan pelaku pasar cenderung enggan masuk ke aset berisiko seperti saham, meskipun peluang tetap terbuka. Ia menambahkan, pasar obligasi dapat terlihat menarik, namun pelaku pasar dan investor juga menanti imbal hasil obligasi 10 tahun berada di atas 7 persen.
Sejalan dengan itu, analis ekonomi politik pasar saham Kusfiardi menilai kondisi pasar saat ini tidak hanya dipengaruhi sentimen musiman domestik, melainkan juga oleh supply shock akibat konflik AS dan Iran. Ia menyinggung penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas ketegangan dengan AS-Israel, yang menurutnya memukul Indonesia pada titik lemahnya, yakni ketergantungan pada impor BBM.
Menghadapi ketidakpastian global, Kusfiardi memperkirakan pelaku pasar akan menerapkan strategi ultra-defensif. Ia menyebut beberapa langkah yang mungkin diambil, antara lain selektivitas sektor dengan menghindari sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan suku bunga seperti properti dan otomotif. Ia juga menilai fokus pada likuiditas dapat dilakukan dengan mengalihkan eksposur ke saham perbankan besar yang berfundamental kuat serta sektor telekomunikasi yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak komoditas. Selain itu, ia menyebut instrumen lindung nilai dengan mempertimbangkan aset aman seperti emas untuk melindungi nilai dari volatilitas kurs.
Kusfiardi menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga dengan pertumbuhan di kisaran 5 persen. Namun, ia menilai arah pasar ke depan sangat bergantung pada respons diplomasi internasional di Selat Hormuz dan keberanian pemerintah menata ulang ruang fiskal di tengah lonjakan harga energi dunia.
Di sisi fiskal, Kusfiardi mengingatkan setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN hingga Rp10,3 triliun. Jika harga minyak Brent bertahan di atas 100 dolar AS per barel dalam jangka panjang, ia mengkhawatirkan defisit anggaran dapat melampaui batas aman 3 persen PDB.
Ia juga menyoroti risiko stagflasi pada kuartal II-2026, yang ditandai pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi meningkat akibat membengkaknya biaya logistik dan energi. Dalam konteks kebijakan moneter, ia menilai langkah Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75 persen merupakan upaya defensif untuk menjaga stabilitas rupiah, namun ruang pelonggaran moneter kini tertutup.
Sementara itu, pergerakan pasar keuangan Indonesia pada pekan pertama setelah libur Lebaran (23–27 Maret 2026) menunjukkan volatilitas tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.097,057 pada perdagangan Jumat (27/3), sedangkan rupiah tertahan di kisaran Rp16.850–Rp16.997 per dolar AS.
Tekanan pasar terjadi seiring lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus di atas 100 dolar AS per barel akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz, jalur yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak global.

