Konflik di Timur Tengah yang memanas sejak awal Maret 2026, dengan eskalasi serius antara koalisi AS-Israel dan Iran, mulai berdampak pada sektor pariwisata global. Ketidakpastian keamanan serta kenaikan biaya perjalanan membuat pergerakan wisatawan melambat dan cenderung menurun.
Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya, Prita Ayu Kusumawardhany, menilai situasi ini menjadi peringatan bagi Indonesia agar segera beradaptasi sehingga tidak kehilangan momentum. Ia menyebut konflik tersebut memunculkan lima risiko utama yang langsung menekan pariwisata, yakni ancaman keamanan, keterbatasan akses transportasi, tekanan psikologis wisatawan, penurunan citra kawasan, serta kenaikan biaya perjalanan.
Menurutnya, kombinasi faktor itu membuat wisatawan semakin selektif dalam menentukan tujuan. Keputusan bepergian tidak lagi hanya dipengaruhi daya tarik destinasi, tetapi juga rasa aman dan kepastian perjalanan. “Meskipun tergolong aman secara geografis, lonjakan biaya perjalanan dan rute yang menjadi lebih panjang harus disiasati dengan bijaksana,” kata Prita Ayu.
Di tengah situasi global yang tidak menentu, ia menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan wisatawan. Salah satu langkah yang dinilai dapat dilakukan ialah memperkuat kampanye digital untuk mempromosikan Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil. Strategi ini dianggap krusial untuk menjaga citra Indonesia sebagai tujuan wisata yang tetap nyaman di tengah konflik global.
Selain promosi, penyesuaian pendekatan pasar juga dinilai perlu. Prita Ayu menilai wisatawan jarak dekat (short-haul traveler) menjadi segmen yang paling potensial dalam kondisi saat ini. Ia juga mendorong penguatan kerja sama dengan maskapai internasional agar konektivitas tetap terjaga meski rute penerbangan mengalami perubahan.
Ia menambahkan, koordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif perlu dilakukan, termasuk dukungan bagi agen perjalanan domestik. Salah satu opsi yang disebutkan adalah subsidi tiket perjalanan dalam negeri untuk menarik wisatawan melakukan perjalanan.
Di sisi lain, faktor keamanan disebut menjadi pertimbangan utama wisatawan. Karena itu, Prita Ayu mendorong pemanfaatan teknologi untuk pengawasan di destinasi wisata. Sistem pemantauan berbasis teknologi di titik-titik ramai seperti Bali dinilai dapat membantu memberikan rasa aman sekaligus meningkatkan kepercayaan pengunjung.
Pada level pelaku usaha, ia menekankan pentingnya fleksibilitas dan diversifikasi. Ia menyarankan penerapan strategi dual market dengan memperkuat pasar wisata domestik dan regional Asia hingga 60–70 persen. Pelaku usaha juga didorong menjaga aktualitas informasi melalui media serta memantau pembaruan dari maskapai penerbangan dan International Air Transport Association (IATA) untuk mengevaluasi risiko dan keamanan penerbangan.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kestabilan bisnis di tengah fluktuasi global. Agar tetap menarik minat wisatawan, pelaku usaha juga disarankan menghadirkan paket perjalanan yang lebih variatif dan fleksibel, termasuk promo dengan sistem garansi atau pengembalian dana, serta travel advisory secara berkala agar keputusan bisnis berbasis data terbaru.

