BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Tak Hanya Ganggu Urea, Pasokan Pupuk Fosfat Global Ikut Terancam

Konflik Timur Tengah Tak Hanya Ganggu Urea, Pasokan Pupuk Fosfat Global Ikut Terancam

Perang di Timur Tengah tidak hanya mengganggu pasokan nutrisi tanaman berbasis nitrogen secara global, tetapi juga memunculkan ancaman baru yang dinilai berpotensi lebih besar pada bagian penting lain dari pasar pupuk.

Sejak konflik dimulai, perhatian utama tertuju pada urea—pupuk nitrogen yang banyak digunakan pada jagung. Harga urea dilaporkan melonjak karena perang menghambat pengiriman melalui Selat Hormuz, sehingga petani berebut mendapatkan pasokan.

Namun, risiko terhadap pupuk fosfat dinilai belum banyak disorot di tengah situasi tersebut. Fosfat merupakan unsur penting bagi tanaman seperti kedelai yang menjadi tulang punggung produksi pangan.

Menurut The Fertilizer Institute, Timur Tengah menyumbang sekitar seperlima dari perdagangan global untuk tiga produk fosfat utama. Meski demikian, kawasan ini berperan besar dalam pasokan bahan penunjang produksi fosfat: hampir setengah pasokan sulfur dunia—yang diubah menjadi asam sulfat untuk pengolahan pupuk fosfat—berasal dari negara-negara Timur Tengah yang rentan terhadap gangguan di Selat Hormuz.

Commodity Market Intelligence (ICIS), seperti dikutip Bloomberg pada Sabtu (21/3), memperingatkan dampak di sepanjang rantai pasokan dapat mulai menjadi “eksponensial” apabila konflik berlangsung lebih lama, terutama setelah produsen menghabiskan cadangan sulfur dan asam sulfat yang tersedia.

Editor Pasar Pupuk ICIS, Andy Hemphill, menilai kondisi ini menjadi kabar buruk bagi pasokan pangan global yang bergantung pada fosfat untuk mendukung pertumbuhan berbagai komoditas pangan, mulai dari kedelai hingga kentang.

Konflik tersebut juga memicu kekhawatiran mengenai inflasi dan ketahanan pangan, serta menjadi ancaman terbaru bagi petani Amerika Serikat yang telah menghadapi biaya produksi tinggi selama bertahun-tahun.

Disebutkan pula, hampir 80% fosfor di Amerika Serikat digunakan untuk lahan kedelai dan jagung, yang kemudian diolah menjadi pakan ternak dan bahan bakar.