BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Picu Risiko Lonjakan Inflasi, Pemulihan Ekonomi Global Terancam

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Lonjakan Inflasi, Pemulihan Ekonomi Global Terancam

Guncangan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu pemulihan ekonomi global yang masih rapuh. Sejumlah lembaga dan pembuat kebijakan memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi kembali naik dan menekan pertumbuhan, sekaligus memperumit arah kebijakan bank sentral di berbagai negara.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada 6 Maret menyatakan, jika harga energi naik 10% dan bertahan tinggi selama satu tahun, inflasi global dapat meningkat 0,4 poin persentase. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun 0,1 hingga 0,2%.

Tekanan dapat membesar apabila pasokan minyak global terganggu. Perkiraan Bloomberg Economics menyebutkan setiap penurunan 1% pasokan minyak dunia dapat memicu kenaikan harga minyak sekitar 4%. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jika jalur ini ditutup selama beberapa bulan, harga minyak diperkirakan dapat naik sekitar 80% dibanding level sebelum konflik, menjadi sekitar 108 dolar AS per barel.

Kenaikan harga energi dan biaya transportasi tidak hanya menekan rumah tangga dan dunia usaha, tetapi juga berisiko mengguncang pasar keuangan. Kondisi ini terjadi ketika pasar sudah mencermati lonjakan saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) serta dampak tarif Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, meski pertumbuhan ekonomi tahun ini masih diproyeksikan 2,2%, konsumen mulai merasakan dampak kenaikan harga energi. Harga minyak mentah Brent dilaporkan telah naik 17%, mendorong kenaikan harga bensin eceran. Menurut layanan pelacakan harga GasBuddy, sejak akhir pekan lalu harga rata-rata bensin di AS naik sekitar 15 sen per galon (1 galon = 3,78 liter).

Pasar keuangan juga menyoroti respons kebijakan Federal Reserve (Fed). Sebelum konflik meletus, pasar memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali tahun ini. Namun, perkembangan harga energi dan risiko inflasi dinilai dapat membuat bank sentral AS lebih berhati-hati dalam keputusan berikutnya.

Di Inggris dan zona euro, Institut Nasional Penelitian Ekonomi dan Sosial (NIESR) memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun lagi 0,2 poin persentase tahun ini jika dampak konflik berlanjut. Dengan skenario itu, pertumbuhan PDB Inggris diperkirakan turun dari 1,1% menjadi 0,9%, sementara pertumbuhan zona euro dari 1,2% menjadi 1%.

Kenaikan harga bahan bakar turut terlihat di Inggris. Menurut Royal Automobile Association (RAC), harga solar naik 5 pence menjadi 147 pence per liter—level tertinggi sejak Agustus 2024—sementara harga bensin naik 3 pence menjadi rata-rata 136 pence per liter. Kenaikan ini menambah tekanan pada rumah tangga yang masih menghadapi biaya hidup tinggi.

Di zona euro, sejumlah pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB), termasuk Wakil Presiden Luis de Guindos, memperingatkan bahwa eskalasi konflik yang berkepanjangan dapat mendorong inflasi naik kembali dan melemahkan pertumbuhan. De Guindos menyebut skenario dasar saat ini mengasumsikan konflik berumur pendek, tetapi jika berkepanjangan, ekspektasi inflasi dapat bergeser ke arah yang tidak menguntungkan.

Di Inggris, Alan Taylor, anggota Komite Kebijakan Moneter Bank of England (BoE), menolak opsi kenaikan suku bunga untuk merespons guncangan harga energi yang disebutnya “diimpor” dari Timur Tengah, karena dinilai dapat menyulitkan investasi dan lapangan kerja. Namun, banyak ahli memperingatkan bank sentral mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama apabila risiko inflasi meningkat.

Dengan kondisi ekonomi global yang masih rentan, guncangan harga energi terbaru dipandang sebagai ujian besar bagi ketahanan ekonomi negara-negara utama dan ketepatan respons kebijakan dalam menahan inflasi tanpa semakin menekan pertumbuhan.