Jakarta – Memanasnya konflik di Timur Tengah antara koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai memunculkan dampak terhadap perekonomian global. Kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas strategis menjadi salah satu indikator yang terlihat.
Di luar tekanan inflasi, konflik tersebut juga memicu kekhawatiran baru: potensi serangan terhadap infrastruktur digital publik, termasuk data center dan jaringan internet. Jika gangguan terjadi, operasional digital yang menjadi tulang punggung aktivitas bisnis dan masyarakat berisiko terdampak.
Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, mengingatkan bahwa konflik bersenjata pada akhirnya dapat berimbas pada pihak yang tidak terlibat langsung, termasuk pelaku usaha. Menurutnya, dalam konflik modern serangan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga di ranah siber oleh “prajurit siber”, yang meningkatkan risiko gangguan terhadap jaringan digital global.
“Jika saya punya perusahaan di Indonesia, saya tak peduli yang menang siapa. Bagi saya, apa untungnya menang A atau B. Tapi, yang penting bisnis saya tak terdampak. Jadi, dampak pasti ada, namun biasanya tak langsung dulu,” ujar Defi di Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
Defi mengibaratkan dampak tidak langsung pada sektor siber dengan potensi gangguan di Selat Hormuz yang dapat menghambat distribusi minyak dunia dan memicu inflasi di berbagai negara. Ia menekankan bahwa serangan terhadap pusat layanan cloud dapat menimbulkan efek berantai bagi para pengguna.
“Misalnya, satu pihak menyerang satu center cloud. Saat diserang, pemakainya jadi teriak semua, karena kan hancur tuh. Artinya, dia mau tak mau kena impact. Apakah kita siap? Company harus siap,” katanya.
Untuk mengantisipasi skenario terburuk, Defi menilai pelaku usaha perlu membangun resiliensi sejak dini. Salah satu langkah yang disarankan adalah tidak menempatkan seluruh data penting dalam satu sistem atau satu server cloud, sehingga data kritikal tetap tersedia ketika terjadi gangguan.
“Karena dia punya data kritikal yang dia amankan. Jadi, mau di atas hancur, dia masih punya data yang penting yang dia amankan,” ujarnya.
Selain dari sisi data, resiliensi juga dinilai perlu diperkuat melalui diversifikasi teknologi. Defi menyarankan perusahaan tidak bergantung pada satu sumber, baik vendor maupun blok teknologi tertentu, agar keberlangsungan operasional lebih terjaga ketika terjadi insiden.
“Tak ada yang lebih bagus. Semuanya sama, karena technology is a technology. Someday, lagi sial, bisa juga dia kebobolan. Tapi, resiliensi, artinya, ada serangan dari sini yang protect ini. Ada serangan dari sana yang protect itu,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagai perusahaan yang berasal dari Rusia, Kaspersky mengklaim memiliki perspektif berbeda dalam membantu klien menghadapi ancaman siber lintas kawasan. Menurut Defi, penggunaan perangkat dan strategi keamanan dari berbagai negara atau blok politik dapat menjadi keunggulan dalam membangun pertahanan siber yang lebih tangguh.
“Jangan sampai dia tak tahu apa-apa, yang perang di sana, dia kena impact. Makanya, secara teknologi, dia harus mulai resiliensi, harus punya backup, harus punya plan A, plan B, plan C,” tandas Defi.