BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Menguji Rantai Pasok dan Permintaan Industri Semikonduktor Global

Konflik Timur Tengah Menguji Rantai Pasok dan Permintaan Industri Semikonduktor Global

Konflik yang berlangsung di Timur Tengah tidak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga memunculkan risiko baru bagi industri semikonduktor global—sektor yang belakangan diuntungkan oleh lonjakan kebutuhan terkait kecerdasan buatan (AI). Para analis menilai, jika konflik berlarut-larut, industri chip berpotensi menghadapi tekanan ganda: gangguan pasokan material penting dan melemahnya permintaan akibat kenaikan biaya energi.

Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menyoroti peran Timur Tengah dalam rantai pasokan semikonduktor, yang bergantung pada ketersediaan berbagai material khusus. Sesaat setelah permusuhan pecah, saham-saham semikonduktor ikut merosot seiring pasar saham. Situasi kemudian sedikit stabil setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan perang mungkin akan segera berakhir.

Dua produsen chip memori terbesar asal Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK hynix, termasuk yang terdampak. Sejak awal permusuhan, kapitalisasi pasar gabungan keduanya menyusut lebih dari 200 miliar dolar AS, meski saham mereka pulih cukup signifikan dalam perdagangan pada 10 Maret.

Menurut Ray Wang, analis memori di SemiAnalysis, konflik berkepanjangan dapat mengganggu akses ke material penting dalam pembuatan chip, terutama helium dan bromin. Helium berperan vital dalam proses manufaktur semikonduktor, antara lain untuk membantu menghilangkan panas selama fabrikasi dan digunakan dalam fotolitografi—tahap krusial untuk mencetak sirkuit berteknologi tinggi ke dalam chip.

Data Survei Geologi AS menunjukkan Qatar memasok lebih dari sepertiga helium dunia, dan saat ini belum ada alternatif yang dinilai layak. Sebelumnya, Asosiasi Industri Semikonduktor (SIA) juga telah memperingatkan bahwa gangguan pasokan helium dapat memicu guncangan besar terhadap industri manufaktur semikonduktor global.

Risiko tidak hanya berada pada sisi produksi. Pengiriman helium keluar dari Timur Tengah juga terancam apabila jalur pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu. Phil Kornbluth, presiden Kornbluth Helium Consulting, memperkirakan bahwa apabila Selat Hormuz ditutup dalam jangka waktu lama, lebih dari 25% pasokan helium global dapat hilang dari pasar.

Dalam perkembangan terbaru, kompleks industri Ras Laffan milik Qatar Energy—yang memproduksi helium sebagai produk sampingan dari gas alam cair (LNG)—dilaporkan diserang drone Iran pekan lalu sehingga memaksa penutupan sementara. Kornbluth memperkirakan dunia dapat menghadapi gangguan produksi helium setidaknya selama 2–3 bulan, dengan tambahan 4–6 bulan untuk menormalkan kembali rantai pasokan.

Selain helium, bromin juga menjadi material penting dalam produksi semikonduktor. Berdasarkan data Survei Geologi AS, sekitar dua pertiga produksi bromin global berasal dari Israel dan Yordania, sehingga eskalasi konflik di kawasan berpotensi menambah kerentanan pasokan.

Di luar risiko rantai pasokan, kenaikan harga energi dinilai dapat menekan permintaan chip, terutama yang digunakan dalam infrastruktur AI. Saat ini, berbagai chip berperforma tinggi sangat dibutuhkan—mulai dari prosesor grafis Nvidia hingga chip memori dari Samsung Electronics dan SK hynix—yang banyak dipakai di pusat data untuk menjalankan model AI skala besar.

Pusat data tersebut mengonsumsi listrik dalam jumlah besar dan terus dibangun secara agresif oleh perusahaan teknologi besar AS seperti Microsoft dan Amazon. Namun, konflik di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak mentah Brent melampaui 100 dolar AS per barel, yang berpotensi meningkatkan biaya operasional pusat data yang sudah boros energi. Menurut analis Morningstar, Jing Jie Yu, pusat data AI mengonsumsi listrik 3–5 kali lebih banyak dibanding pusat data konvensional.

Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan total biaya kepemilikan infrastruktur AI secara signifikan, sehingga perusahaan teknologi mungkin meninjau ulang laju investasinya. Dalam skenario konflik yang berkepanjangan, permintaan chip memori untuk kebutuhan AI berisiko menurun.

Tekanan ini menjadi perhatian bagi Samsung Electronics dan SK hynix, yang memproduksi chip memori untuk berbagai perangkat, termasuk komponen penting pusat data AI. Salah satu produk kunci adalah memori bandwidth tinggi (HBM), yakni memori DRAM yang disusun secara vertikal dan menjadi bagian penting dalam sistem AI Nvidia.

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan besar dari perusahaan teknologi telah menyerap porsi signifikan pasokan chip memori global untuk proyek infrastruktur AI. Kondisi ini memicu kekurangan chip memori dan kenaikan harga tajam, yang berkontribusi pada tingginya keuntungan serta penguatan harga saham Samsung Electronics dan SK hynix selama sembilan bulan terakhir.

Namun, prospek kenaikan biaya energi dan potensi pelemahan permintaan memunculkan kekhawatiran investor. MS Hwang dari Counterpoint Research menyebut listrik menyumbang sekitar setengah biaya operasional pusat data, dengan sekitar setengahnya digunakan untuk daya penyimpanan. Artinya, jika harga chip memori naik akibat ketidakstabilan rantai pasokan sementara biaya energi turut meningkat, operator pusat data bisa terdorong memangkas investasi, yang pada akhirnya menekan permintaan semikonduktor.

Meski demikian, Jing Jie Yu menilai Samsung Electronics dan SK hynix telah menandatangani kontrak pasokan chip HBM untuk sepanjang tahun dan memiliki cadangan yang cukup untuk mempertahankan produksi dalam waktu dekat. Risiko tetap terbuka apabila konflik berlanjut, karena pengembangan infrastruktur AI dapat tertunda, terutama untuk chip DRAM konvensional yang tidak dilindungi kontrak jangka panjang. Kondisi tersebut dapat memicu penurunan harga DRAM dan membuat pendapatan produsen chip lebih rendah dari perkiraan.