BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan ke Dubai, Rantai Pasok Perdagangan Emas Global Tertekan

Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan ke Dubai, Rantai Pasok Perdagangan Emas Global Tertekan

Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai menimbulkan dampak pada perdagangan komoditas global, termasuk emas. Salah satu titik yang paling terdampak adalah Dubai, Uni Emirat Arab, yang selama ini dikenal sebagai pusat utama perdagangan emas dunia.

Gangguan penerbangan menuju Dubai membuat sejumlah negara produsen emas mempertimbangkan pengalihan rute pengiriman. Ghana menjadi salah satu negara yang menyiapkan langkah antisipasi, menyusul ketidakpastian situasi keamanan yang memengaruhi kelancaran operasional penerbangan.

Pemerintah Ghana melalui lembaga GoldBod disebut tengah menyiapkan rencana cadangan untuk mengalihkan pengiriman emas artisanal ke pusat pemurnian di sejumlah lokasi alternatif, seperti Swiss, Hong Kong, India, hingga Shanghai.

Analis StoneX, Rhona O’Connell, menilai pengiriman emas umumnya mengandalkan jalur udara karena nilai komoditas tersebut sangat tinggi dibandingkan beratnya. Namun, ia menyebut Bandara Dubai saat ini dilaporkan hanya beroperasi sekitar 25% dari kapasitas normal akibat kondisi keamanan yang tidak menentu.

O’Connell memperingatkan, apabila penerapan zona larangan terbang meluas, aktivitas perdagangan bisa terhenti dan pasokan devisa negara eksportir berisiko terganggu. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menekan nilai mata uang domestik negara-negara yang bergantung pada ekspor emas.

Di tengah upaya menyiapkan rute alternatif, pelaku industri juga mengingatkan adanya potensi kenaikan biaya logistik. Meski demikian, GoldBod menilai dampaknya terhadap permintaan tidak akan terlalu besar karena minat pasar terhadap emas masih tinggi. Bahkan, sebagian pembeli disebut bersedia membayar harga premium untuk memastikan pasokan logam mulia di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, Chief Executive London Bullion Market Association (LBMA), Ruth Crowell, memandang situasi ini sebagai momentum bagi pelaku pasar untuk meninjau kembali rantai pasok mereka. Menurutnya, gangguan pada jalur utama dapat mendorong peningkatan transparansi, memastikan sumber emas berasal dari jalur yang lebih bertanggung jawab, serta membantu menekan aliran emas ilegal di kawasan Afrika.