BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Ganggu Ekspor Mobil China, Rantai Distribusi via Dubai Tersendat

Konflik Timur Tengah Ganggu Ekspor Mobil China, Rantai Distribusi via Dubai Tersendat

Memanasnya konflik di Timur Tengah imbas perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran mulai berdampak pada industri otomotif global. Salah satu efek yang paling terasa adalah terganggunya ekspor mobil asal China yang selama ini banyak mengandalkan kawasan tersebut sebagai jalur distribusi penting.

Dampak konflik tidak hanya menghentikan penjualan langsung ke negara seperti Iran. Gangguan juga terjadi di Dubai, yang selama ini berfungsi sebagai pusat transit atau “gudang antara” sebelum kendaraan dikirim ke berbagai negara di Timur Tengah, Afrika Barat, hingga Afrika Utara.

“Bisnis kami di Iran benar-benar terhenti,” ujar seorang manajer ekspor dari produsen mobil pelat merah China, dikutip dari Carnewschina, Rabu (4/2/2026).

Selama ini, tidak sedikit perusahaan otomotif China mengirim mobil ke Dubai terlebih dahulu sebelum didistribusikan ke negara tujuan. Ketika jalur ini terganggu, pengiriman ke berbagai kawasan ikut terdampak. Peran Dubai juga tercermin dari data ekspor: Uni Emirat Arab (UEA) tercatat sebagai tujuan ekspor mobil terbesar ketiga China pada 2025, setelah Meksiko dan Rusia.

Pada 2025, ekspor mobil China ke UEA mencapai 567.000 unit, naik lebih dari 70% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan total penjualan mobil di dalam negeri UEA yang kurang dari 400.000 unit, mengindikasikan sebagian besar kendaraan tersebut tidak untuk digunakan di UEA, melainkan dikirim kembali ke negara lain.

“Dubai pada dasarnya berfungsi sebagai gudang depan. Banyak perusahaan mengirim kendaraan ke sana sebelum diteruskan ke pasar tujuan,” ujar salah satu pelaku industri otomotif China lainnya yang tidak disebutkan namanya.

Situasi kemudian memburuk setelah Pelabuhan Jebel Ali di Dubai—pelabuhan terbesar di kawasan tersebut—disebut diserang pada 1 Maret lalu sehingga operasional sempat dihentikan. Meski beberapa dermaga kembali dibuka pada hari yang sama, banyak perusahaan pelayaran memilih menunda layanan dengan alasan keamanan. Kondisi ini membuat aktivitas ekspor praktis tersendat.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah. Pasar Eropa juga ikut terkena imbas, mengingat Uni Eropa merupakan salah satu tujuan utama ekspor mobil China, termasuk kendaraan listrik. Karena jalur Laut Merah dan Terusan Suez dinilai berisiko tinggi, kapal pengangkut mobil kini harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Perubahan rute tersebut menambah waktu pengiriman sekitar 10 hingga 15 hari dan berpotensi meningkatkan biaya logistik.

Di sisi lain, industri otomotif China sebelumnya telah melakukan investasi besar di kawasan Timur Tengah. Beberapa hari sebelum konflik memanas, pengiriman suku cadang dari China dilaporkan tiba di Dubai dan dipindahkan ke gudang seluas 19.000 meter persegi di kawasan bebas Jebel Ali. Gudang tersebut dibangun untuk mempercepat distribusi, dari yang biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu menjadi hanya hitungan hari.