Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai sektor pariwisata perlu melakukan mitigasi risiko di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah yang dinilai mengganggu konektivitas global.
Menurut Airlangga, Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan 5.500 wisatawan mancanegara (wisman) serta potensi kerugian devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari apabila dampaknya tidak dimitigasi dengan baik.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam Webinar Nasional bertajuk Tourism Under Fire: Dampak Eskalasi Konflik Global, Senin (16/3/2026).
Ia merujuk laporan InJourney Airports periode akhir Februari hingga 10 Maret 2026 yang mencatat gangguan pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai. Gangguan itu berdampak pada mobilisasi 47.012 penumpang. Tantangan disebut kian kompleks seiring meningkatnya harga avtur.
Airlangga menyatakan Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global sekaligus membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing di tingkat internasional.
Ia juga menekankan kontribusi pariwisata terhadap perekonomian nasional. Pada 2025, sektor ini disebut menyumbang Rp945,7 triliun atau setara 3,97% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Kontribusi tersebut didorong oleh kenaikan kunjungan wisman yang mencapai 15,39 juta orang atau tumbuh 10,7% secara tahunan. Secara makro, pariwisata disebut mengamankan devisa negara sebesar USD18,91 miliar dan menjadi tumpuan bagi 25,91 juta tenaga kerja.
Untuk menjaga daya saing pariwisata Indonesia, Airlangga memaparkan sejumlah langkah yang dilakukan pemerintah, salah satunya perluasan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK).
Berdasarkan kajian World Travel and Tourism Council, implementasi BVK kepada 169 negara sejak 2015 dinilai mendorong pertumbuhan wisatawan hingga 15% per tahun dan secara langsung menciptakan 400.000 lapangan kerja baru di sektor pariwisata.
Selain itu, Kementerian Pariwisata disebut telah mengidentifikasi 20 negara potensial sebagai bagian dari langkah respons cepat terhadap situasi saat ini.
Airlangga juga menyoroti pentingnya memperkuat pasar domestik dengan memanfaatkan momentum libur Lebaran sebagai jaring pengaman, antara lain melalui konsep micro-tourism—destinasi dalam radius perjalanan darat yang dikemas agar memberikan pengalaman lebih mendalam.
Ia menyampaikan pemerintah telah memberikan stimulus diskon transportasi pada periode Lebaran 2026 serta kebijakan Work From Anywhere untuk mendukung pergerakan wisatawan ke berbagai daerah.
Langkah lain yang disebut diperlukan mencakup negosiasi rute internasional baru, penguatan branding Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil, serta promosi destinasi bagi digital nomad untuk menangkap peluang migrasi talenta digital profesional di wilayah seperti Jakarta, Kepulauan Riau, atau KEK Kura-Kura Bali yang dinilai berpotensi sebagai ekosistem kerja yang aman dan berteknologi tinggi.
Airlangga menambahkan, gejolak nilai tukar saat ini juga dapat menjadi peluang dalam menarik wisatawan karena mereka dinilai bisa memperoleh nilai lebih dari uang yang ditukarkan. Karena itu, ia menilai pemasaran yang menonjolkan Indonesia sebagai destinasi high end dengan harga terjangkau perlu ditekankan.

