BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak Uji Arah Kebijakan Bank Sentral

Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak Uji Arah Kebijakan Bank Sentral

Memanasnya konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran, mendorong bank sentral di berbagai negara meninjau ulang arah kebijakan moneternya. Lonjakan harga energi yang menyertai eskalasi konflik menciptakan tekanan baru: menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus menahan inflasi yang berisiko kembali meningkat.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menilai situasi ini dapat menjadi ujian baru bagi ketahanan ekonomi global. Ia mengingatkan para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan skenario terburuk dan bersiap menghadapinya.

Kekhawatiran pasar menguat setelah harga minyak menembus lebih dari US$ 110 per barel, memicu risiko gangguan pasokan energi global. Dampaknya terlihat di pasar keuangan Asia pada awal pekan, ketika bursa saham melemah dan dolar AS menguat seiring investor mencari aset aman.

Bagi banyak bank sentral, khususnya di negara berkembang Asia, kondisi ini menimbulkan dilema. Rencana menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan menjadi lebih berisiko karena kenaikan harga energi dapat memicu inflasi sekaligus mendorong arus keluar modal.

Di kawasan seperti Thailand dan Filipina, bank sentral bahkan berpotensi membalikkan sikap kebijakan moneter yang sebelumnya longgar. Ekonom pasar negara berkembang Dai-ichi Life Research Institute, Toru Nishihama, menyebut tekanan datang dari berbagai arah, baik dari pasar maupun pemerintah. Ia juga menilai risiko stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan lemah—kian meningkat karena konflik belum menunjukkan tanda mereda.

India menghadapi dilema serupa. Bank sentral negara itu disebut masih ingin mempertahankan suku bunga rendah untuk menopang pertumbuhan. Namun, penguatan dolar AS sebagai aset safe haven berpotensi melemahkan nilai tukar rupee, sehingga otoritas moneter mungkin perlu meningkatkan intervensi di pasar valuta asing.

Tekanan juga dirasakan negara industri yang bergantung pada perdagangan global dan bahan baku murah, seperti Korea Selatan dan Jepang. Jika inflasi di Korea Selatan tetap sekitar satu poin persentase di atas target, bank sentral berpeluang mengambil sikap kebijakan yang lebih ketat.

Di Jepang, pilihan kebijakan dinilai lebih tajam. Jika harga minyak bertahan di sekitar US$ 110 per barel selama setahun, pertumbuhan ekonomi Jepang diperkirakan dapat terpangkas sekitar 0,39 poin persentase, menjadi pukulan besar bagi ekonomi yang potensi pertumbuhannya hanya sekitar 0,5% hingga 1%.

Berbeda dengan masa lalu, bank sentral Jepang kini memiliki ruang yang lebih sempit untuk menunda kenaikan suku bunga. Inflasi di negara itu telah berada di atas target 2% selama hampir empat tahun, sehingga tekanan harga dinilai tidak lagi bisa diabaikan.

Dilema serupa muncul di negara maju lain. Di Australia, lonjakan harga minyak berpotensi mendorong kenaikan ekspektasi inflasi yang sudah tinggi. Jika itu terjadi, bank sentral kemungkinan harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi.

Sementara itu, Selandia Baru menghadapi tantangan berbeda. Ekonominya masih berjuang pulih setelah dampak kenaikan suku bunga sebelumnya. Karena itu, bank sentral diperkirakan perlu mentoleransi inflasi yang lebih tinggi dalam jangka pendek agar tidak memperburuk perlambatan ekonomi global.

IMF memperkirakan kenaikan harga minyak sebesar 10% yang bertahan sepanjang tahun dapat mendorong inflasi global naik sekitar 0,4 poin persentase. Di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat, bank sentral di berbagai negara kini dihadapkan pada pilihan kebijakan yang semakin sulit.