Perang di Timur Tengah kerap dipahami publik sebagai konflik yang berkaitan dengan perebutan energi konvensional. Namun, di balik itu terdapat ancaman lain yang dinilai tak kalah serius, yakni potensi krisis pangan global yang berawal dari terganggunya pasokan unsur hara penting bagi produksi pertanian.
Salah satu titik krusial berada di Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan lautan lepas. Selain menjadi lintasan tanker minyak, kawasan ini juga disebut sebagai arteri penting distribusi pupuk dunia. Hampir separuh perdagangan urea global bergantung pada stabilitas keamanan di perairan strategis tersebut.
Ketika konflik mengganggu stabilitas wilayah, dampaknya tidak hanya menyasar aliran energi untuk industri, tetapi juga distribusi unsur hara yang menopang produksi pangan. Gangguan pasokan pupuk dapat terjadi mendadak dan berpengaruh luas terhadap petani serta konsumen di berbagai negara.
Timur Tengah disebut sebagai pusat utama produksi pupuk nitrogen dan bahan baku pupuk fosfat dalam jumlah besar. Kawasan ini menyumbang sekitar 15% hingga 20% dari total produksi pupuk nitrogen dunia. Negara-negara Teluk juga mendominasi perdagangan internasional, dengan hampir 50% ekspor urea global berasal dari kawasan tersebut melalui jalur laut.
Qatar, Arab Saudi, Iran, dan Oman memiliki posisi strategis karena didukung cadangan gas alam yang melimpah. Qatar memproduksi sekitar 6 juta ton urea per tahun, sementara Iran mencapai 8 juta ton untuk pasar ekspor. Arab Saudi, melalui industri petrokimia berskala besar, turut memperkuat peran kawasan sebagai pemasok utama pupuk nitrogen.
Sejumlah negara menjadi pengimpor besar dari kawasan Teluk, antara lain India, Brasil, dan Cina. Negara-negara Asia disebut menyerap sekitar 35% ekspor urea dan 64% amonia dari kawasan tersebut guna menjaga produktivitas lahan pertanian. Pasokan ini juga dinilai vital bagi negara berpenduduk besar, termasuk Indonesia, serta negara lain seperti Maroko, Amerika Serikat, dan Australia.
Ketika pasokan pupuk terganggu dan harga meningkat, dampaknya tidak lagi bersifat lokal. India disebut bergantung lebih dari 40% kebutuhan pupuknya dari Timur Tengah, sementara Brasil hampir sepenuhnya bergantung pada impor melalui jalur Hormuz. Gangguan distribusi dapat mendorong petani mengurangi pemupukan, yang berisiko menurunkan hasil panen secara drastis. Negara yang bergantung pada impor pangan disebut menjadi pihak paling rentan ketika pasokan global menyusut tajam.
Indonesia pun dinilai tidak sepenuhnya aman dari ancaman tersebut. Meski memiliki luas sawah, petani masih bergantung pada ketersediaan pupuk impor. Ketika negara besar seperti Cina mengalami kelangkaan pupuk, persaingan di pasar global dapat mendorong kenaikan harga. Kondisi ini membuat petani dihadapkan pada pilihan menggunakan pupuk dengan harga tinggi atau mengurangi dosis pemupukan.
Persoalan lain yang disorot adalah kondisi kesuburan tanah. Banyak lahan disebut tidak cukup subur tanpa tambahan pupuk. Tanaman padi, misalnya, membutuhkan sekitar 150 kilogram nitrogen per hektare untuk menghasilkan panen gabah secara maksimal. Kebutuhan ini disebut melampaui kemampuan alami tanah dalam menyediakan nutrisi. Dalam konteks ini, ketersediaan nitrogen dan fosfor menjadi penentu pertumbuhan dan pembuahan tanaman.
Untuk meredam dampak gangguan pasokan global, diperlukan kebijakan pemerintah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah yang diusulkan antara lain memperkuat cadangan pupuk nasional serta memastikan distribusi tepat sasaran bagi petani di berbagai wilayah.
Selain itu, hilirisasi gas domestik sebagai bahan baku pupuk didorong untuk mengurangi ketergantungan impor secara bertahap. Pengembangan pupuk alternatif, seperti pupuk organik dan hayati, juga dinilai perlu dipercepat dengan dukungan riset. Di tingkat budidaya, implementasi pemupukan berimbang dan presisi disebut perlu diperluas untuk meningkatkan efisiensi penggunaan hara.
Dalam jangka panjang, kebijakan diarahkan pada perbaikan kesehatan tanah melalui peningkatan bahan organik guna menjaga kesuburan lahan pertanian. Dengan demikian, dampak konflik yang terjadi jauh dari Indonesia diharapkan tidak terlalu besar terasa di sawah dan rantai pasok pangan.

