BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Bikin Harga Logam Industri Berfluktuasi

Konflik Timur Tengah Bikin Harga Logam Industri Berfluktuasi

Harga logam industri global bergerak fluktuatif di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah. Pergerakan harga dipengaruhi kombinasi sentimen risiko, kondisi stok, serta kebijakan produksi dan arah suku bunga global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (10/3) pukul 16.42 WIB, harga aluminium turun 1,50% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$ 3.334 per ton. Sementara itu, nikel naik 0,33% dalam sehari ke US$ 17.510 per ton. Adapun harga timah tercatat US$ 50.685 per ton pada Senin (9/3), naik 1,24% dibanding hari sebelumnya.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai sejumlah sentimen yang akan menggerakkan logam industri ke depan mencakup stabilitas geopolitik, kebijakan kuota produksi, dan siklus suku bunga global.

Menurut Sutopo, sentimen risk off yang dipicu eskalasi konflik di Teluk membuat investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas. Namun, ia menambahkan, terbatasnya stok di gudang LME dan COMEX memberi “lantai dukungan” yang kuat bagi harga logam dasar.

Sejalan dengan itu, analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan kebijakan produsen seperti China dan Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasokan serta mencegah kelebihan kapasitas (over supply) akan terus menjadi penentu level bawah harga.

Wahyu juga menilai logam industri masih menarik sebagai bagian dari diversifikasi portofolio investasi karena didukung narasi kebutuhan transisi energi, seperti kendaraan listrik dan energi hijau. Meski demikian, ia mengingatkan volatilitas tetap tinggi. “Jika konflik mereda tiba-tiba, harga bisa berubah dengan cepat, bisa membaik,” kata Wahyu.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong berpendapat investasi logam industri masih menarik, tetapi lebih cocok untuk investor tertentu yang memahami siklus ekonomi. Ia menyebut prospek didukung transisi energi global, kebutuhan infrastruktur listrik dan teknologi, serta potensi gangguan pasokan.

Namun, Lukman menekankan risiko juga besar, terutama dari perlambatan ekonomi global, potensi oversupply pada beberapa logam seperti nikel, serta volatilitas akibat kebijakan perdagangan.