Konflik Iran-Israel memasuki hari ke-20 dengan eskalasi yang kian meluas, mulai dari serangan terhadap sektor energi, pembunuhan pejabat keamanan, hingga meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk. Perkembangan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dan dampaknya terhadap perekonomian global.
Di dalam negeri, Iran berada di bawah tekanan setelah serangkaian pembunuhan yang menimpa pejabat tinggi keamanan. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan Israel akan “membayar” atas pembunuhan tiga pejabat senior dalam waktu berdekatan, termasuk Menteri Intelijen Esmail Khatib. Sebelumnya, dua tokoh penting lainnya juga dilaporkan tewas, yakni Kepala Keamanan Ali Larijani dan pimpinan pasukan paramiliter Basij, Gholamreza Soleimani. Rentetan kejadian ini menunjukkan meningkatnya intensitas operasi yang menyasar struktur keamanan inti Iran.
Selain itu, serangan Israel terhadap ladang gas South Pars disebut menjadi pukulan strategis bagi sektor energi Iran. Militer Israel juga mengumumkan telah memperluas serangan ke wilayah utara Iran, wilayah yang sebelumnya belum tersentuh sejak awal konflik. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan akan melakukan balasan, dan ancaman itu diikuti serangan Iran yang menyasar fasilitas energi negara-negara Teluk beberapa jam kemudian.
Dampak konflik terasa kuat di kawasan Teluk. Rudal Iran dilaporkan menghantam fasilitas gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar, salah satu fasilitas terbesar di dunia. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan dan dinilai berpotensi memicu krisis pasokan energi global.
Selain Qatar, Iran juga dilaporkan menargetkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, meski sebagian serangan berhasil dicegat. Ketegangan diplomatik meningkat setelah Qatar mengusir atase militer dan keamanan Iran dengan status persona non grata. Arab Saudi menyatakan kepercayaan terhadap Iran telah sepenuhnya hancur. Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan memperingatkan opsi non-diplomatik dapat diambil jika serangan terus berlanjut. “Kesabaran yang ditunjukkan tidaklah tanpa batas,” ujarnya.
Di Kuwait, aparat keamanan mengklaim berhasil menggagalkan rencana serangan terhadap infrastruktur vital dan menangkap 10 orang yang diduga terkait kelompok Hizbullah. Sementara itu, Bahrain melaporkan telah mencegat ratusan rudal dan drone sejak perang dimulai.
Di Amerika Serikat, konflik memicu polemik internal terkait penilaian ancaman nuklir Iran. Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dituduh mengubah kesaksian di Senat mengenai program nuklir Iran. Dalam dokumen tertulis disebutkan Iran berupaya membangun kembali kapasitas pengayaan uranium, namun hal itu tidak disampaikan dalam pernyataan lisannya. Situasi ini dinilai bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump yang menyebut Iran sebagai ancaman langsung sebelum perang dimulai, sehingga memunculkan kritik bahwa bukti ancaman tersebut tidak cukup kuat.
Di sisi kebijakan ekonomi, Trump mencabut sementara aturan pelayaran lama melalui kebijakan Jones Act waiver selama 60 hari. Langkah ini ditujukan untuk menekan biaya energi di tengah lonjakan harga akibat konflik, sekaligus mencerminkan kekhawatiran pemerintah AS atas dampak perang terhadap ekonomi domestik, terutama menjelang pemilu legislatif.
Sementara itu, Israel terus memperluas operasi militernya dengan menyerang wilayah utara Iran. Pada saat yang sama, ketegangan di perbatasan Lebanon meningkat seiring konflik dengan Hizbullah yang kian intensif. Pertempuran di wilayah selatan Lebanon terus berlangsung, dengan Hizbullah mengklaim telah menyerang pasukan Israel di beberapa titik. Konflik ini dilaporkan menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dalam waktu kurang dari tiga minggu.
Di Israel, militer melaporkan serpihan proyektil hasil intersepsi rudal Iran sempat jatuh di Bandara Ben Gurion, menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur sipil. Analis Israel Daniel Levy menilai langkah militer Israel bertujuan mendorong “keruntuhan rezim” di Iran dan menyebut eskalasi tersebut sebagai upaya yang disengaja untuk mempersempit peluang deeskalasi.
Dampak konflik juga menjalar ke Irak. Markas pasukan keamanan di wilayah Salah al-Din diserang, melukai tiga personel. Pasukan tersebut merupakan bagian dari Popular Mobilisation Forces (PMF), kelompok paramiliter yang memiliki kedekatan dengan Iran.
Di sektor energi global, kekhawatiran meningkat seiring risiko gangguan jalur dan fasilitas pasokan. Korea Selatan mengamankan tambahan pasokan minyak dari Uni Emirat Arab melalui jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Di Amerika Serikat, Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan proyeksi inflasi dengan alasan ketidakpastian ekonomi akibat perang. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan kenaikan harga energi akan mendorong inflasi dalam waktu dekat.
Dengan eskalasi yang terus berlanjut dan melibatkan banyak negara, konflik Iran-Israel kini bergerak melampaui krisis regional. Perang yang menyasar keamanan dan energi dinilai menjadi ancaman serius bagi stabilitas global, terutama terkait pasokan energi dan dinamika keamanan internasional.

