Negara-negara Teluk dilaporkan semakin frustrasi terhadap Amerika Serikat terkait perang melawan Iran. Sejumlah pihak secara pribadi mempertanyakan jaminan keamanan Washington serta menyuarakan kekhawatiran atas tidak terlihatnya strategi yang jelas dari pemerintahan Presiden Donald Trump, menurut orang-orang yang mengetahui situasi tersebut.
Sebulan setelah konflik AS-Israel dengan Iran—yang disebut telah berlangsung selama setahun—negara-negara Teluk disebut masih menjadi sasaran serangan Iran. Arab Saudi pada Jumat (27/3/2026) dilaporkan mencegat sekitar setengah lusin drone, sementara dua pelabuhan di Kuwait disebut diserang.
Di saat yang sama, Selat Hormuz—koridor pelayaran vital yang menjadi jalur ekonomi penting bagi kawasan—dilaporkan tetap hampir tertutup. Kondisi ini disebut memicu kerugian miliaran dolar pada pendapatan minyak.
Sejumlah pejabat mempertanyakan alasan, komitmen, dan tujuan Presiden Trump dalam perang tersebut, termasuk menilai kembali manfaat keberadaan pangkalan-pangkalan Amerika di negara mereka yang justru disebut membuat kawasan menjadi target, menurut sumber-sumber yang meminta identitasnya tidak disebutkan karena membahas isu sensitif.

