Yogyakarta merasakan dampak konflik global antara Iran dan Amerika Serikat yang berimbas pada pembatalan penerbangan internasional. Kondisi tersebut menghambat pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) kerajinan dan mebel di daerah itu untuk menembus pasar ekspor, terutama karena terganggunya mobilitas buyer dari luar negeri.
Keluhan itu mengemuka dalam gelaran Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2026 di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, Senin (9/3/2026). Pelaku usaha kerajinan dan mebel, Agus Imron, mengatakan banyak calon pembeli dari luar negeri membatalkan kunjungan karena penerbangan mereka dibatalkan.
Menurut Agus, para buyer dan pengusaha sebenarnya sama-sama siap bertemu untuk melakukan transaksi. Namun, hambatan transportasi membuat pertemuan langsung yang biasanya menjadi kunci kesepakatan dagang tidak dapat terlaksana. Ia menilai situasi kali ini berbeda dibanding masa pandemi COVID-19 maupun konflik Laut Merah sebelumnya, ketika aktivitas perdagangan dinilai masih memiliki celah untuk tetap berjalan.
Agus menyebut mayoritas buyer produk kerajinan dan furnitur Indonesia berasal dari Eropa dan Amerika. Ia menuturkan buyer dari Eropa datang dari sekitar 28 negara, sehingga pembatalan penerbangan dinilai sangat mengganggu jalannya pameran dan peluang transaksi.
Dampak pembatalan penerbangan juga dirasakan buyer yang sudah terlanjur tiba di Indonesia. Agus menyampaikan sebagian dari mereka kesulitan mendapatkan penerbangan untuk kembali ke negara asal, sehingga kepulangan harus tertunda.
Di sisi lain, gangguan transportasi turut memukul pesanan produk kerajinan. Dalam laporan yang sama disebutkan penurunan pesanan mencapai 60–70 persen, kondisi yang menekan kelangsungan pelaku IKM lokal.
Agus berharap pemerintah dapat membantu mencarikan alternatif jalur agar buyer tetap bisa datang ke Indonesia. Sambil menunggu situasi membaik, ia juga mendorong pelaku usaha untuk proaktif menjaga komunikasi dengan buyer melalui media sosial dan email, termasuk menyiapkan studio kecil untuk memotret produk dan mengirimkannya secara digital.
Dampak serupa disebut turut dirasakan pelaku usaha lain, termasuk Markus Wibowo, pemilik usaha mebel skala kecil Kreasi Ayu, meski rincian keterangannya tidak termuat lengkap dalam data yang tersedia.

