Ketegangan geopolitik kembali meningkat seiring konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Situasi ini tidak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga memunculkan efek berantai terhadap perekonomian dunia.
Dalam laporan yang beredar, Iran disebut meluncurkan sekitar 10 rudal berat dalam serangan udara terbarunya terhadap Israel pada Selasa (10/3/2026). Eskalasi ini membuat sejumlah negara bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi, terutama karena pasar energi global dan rantai pasok berisiko terganggu.
Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah lonjakan harga minyak serta gangguan lalu lintas maritim di Teluk, terutama di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute pelayaran energi paling penting di dunia, tempat sebagian besar pengiriman minyak dari kawasan Teluk melintas sebelum menuju pasar internasional.
Ketika ketegangan meningkat atau konflik bersenjata pecah, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat langsung terganggu. Dampaknya bisa meluas, mulai dari kenaikan harga energi hingga meningkatnya biaya logistik global, yang pada akhirnya membebani konsumen dan pelaku usaha.
Meski situasi penuh ketidakpastian, sejumlah pihak menilai ada negara yang dapat menemukan peluang strategis di tengah kekisruhan. Dalam konteks ini, Rusia disebut menjadi salah satu negara yang berpotensi memperoleh keuntungan tertentu.
Iran selama ini merupakan sekutu utama dan mitra militer penting bagi Rusia. Namun, konflik di Timur Tengah dinilai dapat menguntungkan Moskwa dalam perang di Ukraina karena perhatian dan sumber daya militer Amerika Serikat berpotensi teralihkan untuk menghadapi Iran.
Nicole Grajewski, profesor di Pusat Studi Internasional Institut Ilmu Politik Paris, mengatakan berkurangnya ketersediaan rudal Patriot dan pencegatnya dapat menguntungkan Rusia karena membatasi dukungan yang bisa diperoleh Ukraina. Namun, analis menilai meningkatnya kebutuhan Iran akan drone Shahed tidak akan berdampak besar pada kemampuan militer Rusia di Ukraina.
Hanna Notte, Direktur Eurasia di Center for Nonproliferation Studies, menyatakan Rusia memang bergantung pada Iran dalam kerja sama pertahanan pada fase awal perang Ukraina, terutama saat Iran memasok drone Shahed serta teknologi produksi dan lisensinya pada 2022–2023. Menurutnya, pada tahap perang saat ini Rusia tidak lagi memerlukan Iran untuk melanjutkan perang karena sudah dapat memproduksi drone Shahed sendiri.
Sementara itu, jika Iran menutup Selat Hormuz dan menghambat pengiriman minyak serta gas hingga memicu lonjakan harga bahan bakar, kondisi tersebut disebut dapat memberi sedikit keringanan finansial bagi Rusia yang selama ini berada di bawah tekanan besar akibat perang di Ukraina.

