BERITA TERKINI
Konflik AS–Iran–Israel Picu Kekhawatiran Perdagangan Sawit Global

Konflik AS–Iran–Israel Picu Kekhawatiran Perdagangan Sawit Global

Pelaku industri sawit global berharap konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel segera mereda. Ketegangan tersebut dinilai mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan biaya logistik pengiriman minyak sawit.

Konflik yang berkepanjangan disebut dapat mengguncang perekonomian serta pertumbuhan sejumlah negara. Sejumlah lembaga ekonomi global menilai minyak mentah menjadi faktor kunci dalam dinamika konflik, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berada di bawah kendali Iran.

Bloomberg Economics dalam analisisnya menyebut penurunan pasokan minyak sebesar 1% berpotensi mendorong kenaikan harga minyak sekitar 4%. Sementara itu, Oxford Economics memperkirakan inflasi pada akhir tahun di Inggris dan zona euro akan sekitar 0,5 poin persentase hingga 0,6 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Inflasi Inggris tercatat 3% pada Januari.

Kenaikan harga minyak mentah turut berdampak pada harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global. Di Bursa CPO Malaysia, harga CPO dilaporkan tumbuh 3,7% secara harian, bersamaan dengan volume perdagangan harian kontrak tertinggi, berdasarkan data bursa dan analis pasar pada 6 Maret.

Kontrak minyak sawit untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 3,7% pada 6 Maret dan ditutup pada level MR 4.365 per metrik ton (setara $1.105,90 per metrik ton).

Data bursa juga menunjukkan selisih harga minyak sawit Bursa Malaysia terhadap gasoil ICE Singapura—yang dikenal sebagai spread PO-GO—tercatat sebesar $177,96 per metrik ton pada 6 Maret, atau 44% lebih dekat dibanding 27 Februari.

“Semakin dekatnya selisih harga PO-GO, ditambah dengan kelayakan sektor biofuel, adalah katalis terbesar yang mendukung sentimen pasar saat ini,” kata Lingam Supramaniam, direktur dan analis di Pelindung Bestari, perusahaan pialang minyak nabati berbasis di Malaysia, seperti dikutip dari S&P Global.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif PASPI, Dr. Tungkot Sipayung, menyatakan kekhawatirannya apabila konflik di Timur Tengah berlangsung lama. Ia menyoroti bahwa sejumlah negara yang mengimpor energi dan mengekspor barang dari dan ke kawasan Timur Tengah telah menghentikan aktivitas tertentu untuk menghindari risiko akibat konflik.