Harga emas di pasar global menguat tajam pada awal pekan ini, didorong kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi terbaru Amerika Serikat. Pada perdagangan Selasa pagi (24/2/2026), emas tercatat menyentuh level US$ 5.240 per ons.
Sebelumnya, pada perdagangan Senin (23/2/2026) waktu Amerika Serikat, harga emas sudah melonjak 2,44% dan berada di posisi US$ 5.228 per ons. Penguatan tersebut kemudian berlanjut pada hari berikutnya, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset yang dinilai lebih aman.
Lonjakan harga emas kali ini terutama dikaitkan dengan rencana penerapan kebijakan tarif oleh Presiden Donald Trump. Ketidakpastian terkait arah perdagangan internasional memicu kecemasan pasar terhadap stabilitas ekonomi global, sehingga mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih stabil.
Sentimen safe haven pun mendominasi pergerakan pasar keuangan di berbagai wilayah. Investor mencari perlindungan nilai di tengah potensi memanasnya kembali perang dagang, sementara kondisi geopolitik yang belum pasti turut memperkuat posisi emas sebagai instrumen lindung nilai.
Penguatan pada awal pekan ini disebut sebagai kenaikan tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Kenaikan lebih dari 2% dalam satu hari perdagangan menjadi sinyal kuat bahwa pasar masih sangat reaktif terhadap isu kebijakan luar negeri Amerika Serikat, sekaligus menandakan volatilitas berpeluang berlanjut dalam waktu dekat.
Memasuki Selasa pagi, tren kenaikan belum menunjukkan tanda mereda. Harga emas bertahan di level tinggi seiring berkembangnya spekulasi mengenai rincian tarif yang akan diberlakukan, sementara pelaku pasar mencermati setiap pernyataan resmi dari Gedung Putih.
Secara keseluruhan, pergerakan emas saat ini dinilai sangat bergantung pada arah kebijakan proteksionisme Amerika Serikat. Jika ketidakpastian ekonomi global terus meningkat, harga emas berpotensi kembali mencetak rekor baru, meski investor tetap diingatkan untuk mewaspadai fluktuasi yang dapat terjadi secara mendadak di pasar komoditas.

