Ketidakpastian global kembali mendorong penguatan harga emas menjelang akhir Februari hingga awal Maret. Sejumlah faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, membuat pergerakan pasar keuangan berfluktuasi. Dalam kondisi tersebut, emas kembali menjadi pilihan investor sebagai aset lindung nilai.
Sentimen penguatan emas dinilai sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah risiko global yang belum mereda. Kajian ekonomi yang dimuat dalam Journal of International Financial Markets, Institutions and Money menyebutkan, harga emas cenderung naik ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat, karena dipandang mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka menengah hingga panjang.
Di pasar domestik, tren kenaikan harga emas mulai menarik minat investor ritel. Kemudahan akses pembelian melalui platform digital membuat emas semakin terjangkau bagi berbagai kalangan, termasuk investor pemula. Namun, meningkatnya minat beli juga dipengaruhi sentimen pasar global yang cepat berubah serta intensitas pemberitaan ekonomi internasional.
Pengamat menilai prospek pergerakan emas menjelang Maret masih sangat bergantung pada perkembangan situasi global. Meski emas kerap dipandang efektif untuk diversifikasi portofolio, investor tetap disarankan mempertimbangkan strategi jangka panjang dan manajemen risiko. Dengan perencanaan yang matang, emas dapat berperan sebagai penyeimbang portofolio di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.

