Apple, salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, masih menghadapi tantangan besar yang tidak semata-mata terkait bisnis. Keberlangsungan produk-produknya bertumpu pada rantai produksi chip yang berujung di Taiwan, pulau yang berada di pusat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China.
Pada kuartal pertama 2024, pendapatan Apple tercatat mencapai 119,6 miliar dolar AS. Namun, lebih dari 90% chip yang menjadi “mesin” bagi iPhone, MacBook, dan iPad diproduksi oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Pabrik utama TSMC berada di Taiwan, wilayah yang status politiknya masih menjadi sumber sengketa dan persaingan dua negara adidaya tersebut.
Kondisi ini menempatkan Apple dalam posisi rentan. Selama sekitar dua dekade, keputusan ekonomi yang menekankan efisiensi membuat perusahaan membangun ekosistem produksi yang sangat terpusat. Akibatnya, ketergantungan itu kini sulit dilepaskan ketika risiko geopolitik meningkat.
Mengapa Apple tidak bisa cepat berpindah?
TSMC bukan sekadar pemasok chip biasa. Perusahaan ini disebut sebagai satu-satunya pabrikan yang mampu memproduksi chip berteknologi 3 nanometer dalam skala besar—teknologi yang menjadi inti bagi produk-produk terbaru Apple. Hingga kini, belum ada pihak lain yang bisa menggantikan peran tersebut dalam skala dan kemampuan yang setara.
Dalam kajian Hubungan Internasional, situasi semacam ini kerap dipahami sebagai strategic dependence, yaitu ketika satu pihak sangat bergantung pada pihak lain sehingga fungsi normalnya tidak dapat berjalan tanpa dukungan pihak tersebut. Dalam konteks ini, Apple bukan sekadar enggan mencari alternatif, melainkan menghadapi keterbatasan pilihan yang layak di pasar global saat ini.
Taiwan bukan hanya lokasi pabrik
Kerentanan Apple juga terkait dengan kondisi politik Taiwan. China masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang pada akhirnya akan dipersatukan kembali, baik melalui cara damai maupun kekuatan militer. Di sisi lain, Amerika Serikat mendukung Taiwan melalui penjualan senjata dan komitmen menjaga stabilitas kawasan, meski tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat.
Ketegangan tersebut tercermin dalam peristiwa Agustus 2022, ketika kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taipei direspons China dengan latihan militer berskala besar di sekitar Taiwan. Rudal diluncurkan dan kapal perang dikerahkan, sementara pasar saham global, termasuk saham Apple, dilaporkan berfluktuasi tajam.
Dalam situasi seperti itu, Apple tidak memiliki kendali atas dinamika diplomatik maupun militer yang melibatkan dua kekuatan besar. Ketergantungan pada chip yang diproduksi di Taiwan membuat stabilitas rantai pasok perusahaan ikut terkait langsung dengan situasi di Selat Taiwan.
Langkah diversifikasi, tetapi belum cukup
Apple telah mengambil sejumlah langkah untuk merespons risiko tersebut. Perusahaan ini menanamkan modal 1,5 miliar dolar AS di India dan mendorong Foxconn membangun pabrik besar di Chennai dan Pune. Dampaknya, sekitar 14% produksi iPhone disebut telah beralih ke India, meningkat dari hampir tidak ada pada 2020.
Selain itu, Apple juga mendorong TSMC membangun fasilitas produksi chip di Phoenix, Arizona, sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan pada Taiwan.
Namun, proyeksi Bloomberg Intelligence dan TrendForce menyebut bahwa pada 2027 lebih dari 70% chip canggih Apple diperkirakan masih diproduksi di Taiwan. Pabrik di Arizona pun disebut baru akan beroperasi penuh pada 2028, dengan biaya produksi sekitar 30 hingga 40% lebih mahal dibandingkan fasilitas di Taiwan.
Dalam kajian Hubungan Internasional, situasi ini kerap dijelaskan melalui konsep path dependency, yakni ketika keputusan masa lalu membentuk pola ketergantungan yang sulit diubah secara cepat. Selama bertahun-tahun, Apple membangun ekosistem produksinya di atas basis Taiwan, sehingga upaya mengurainya membutuhkan waktu panjang dan tidak serta-merta menghapus risiko geopolitik.
Cerminan persoalan rantai pasok global
Kasus Apple dan Taiwan juga mencerminkan persoalan yang lebih luas: keyakinan bahwa perdagangan global dan saling ketergantungan ekonomi dapat menekan kemungkinan konflik antarnegara kini menghadapi ujian serius seiring meningkatnya persaingan Amerika Serikat dan China.
Hingga kini, situasi di Selat Taiwan belum berkembang menjadi perang terbuka. Namun, setiap latihan militer yang mengitari Taiwan kembali mengingatkan bahwa ketergantungan Apple bukan sekadar risiko bisnis yang bisa dikelola melalui mekanisme biasa. Ini merupakan paparan geopolitik yang besar, sementara solusi yang benar-benar memadai masih belum terlihat.