BERITA TERKINI
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan, Goldman Sachs: Minyak Bisa Tembus US$100 Jika Selat Hormuz Tak Pulih

Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan, Goldman Sachs: Minyak Bisa Tembus US$100 Jika Selat Hormuz Tak Pulih

Jakarta – Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama potensi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Goldman Sachs memperingatkan harga minyak mentah berpotensi melampaui US$100 per barel pada pekan depan apabila Selat Hormuz—jalur maritim penting bagi perdagangan minyak dunia—tidak kembali dibuka.

Selat Hormuz selama ini dipandang sebagai salah satu rute paling krusial dalam rantai pasok energi global karena menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan berbagai pasar konsumen. Gangguan, termasuk penutupan akibat perang atau konflik, dinilai dapat menekan pasokan minyak dunia dan mendorong harga naik tajam.

Dalam proyeksinya, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$80-an untuk bulan Maret dan US$70-an pada kuartal II. Namun, bank investasi tersebut juga menyoroti skenario lebih ekstrem seiring turunnya volume perdagangan melalui Selat Hormuz hingga 90% saat ini.

“Kami sekarang juga berpikir kemungkinan harga minyak, terutama untuk produk olahan, akan melebihi puncak tahun 2008 dan 2022 jika Selat Hormuz tetap tertekan sepanjang bulan Maret,” demikian pernyataan Goldman Sachs seperti dikutip Reuters, Sabtu (7/3/2026). Goldman Sachs menekankan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak besar, mengingat puncak harga minyak pada 2008 terjadi di tengah kekhawatiran pasokan global, sementara lonjakan pada 2022 dipicu invasi Rusia ke Ukraina.

Kenaikan harga minyak berisiko menimbulkan efek berantai pada perekonomian global. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, serta produksi barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi, menekan daya beli, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Pergerakan harga minyak belakangan juga mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik. Pada Jumat, harga minyak mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak periode volatilitas ekstrem pada awal pandemi COVID-19, seiring kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan akibat konflik.

Kekhawatiran serupa turut disampaikan lembaga keuangan global lainnya. Barclays memperkirakan harga minyak mentah Brent dapat naik hingga US$120 per barel bila konflik di Timur Tengah berlanjut selama beberapa pekan. Proyeksi tersebut menunjukkan potensi dampak yang lebih besar apabila situasi tidak segera mereda.

Di luar faktor geopolitik, harga minyak juga dipengaruhi sejumlah variabel lain, termasuk permintaan global, kebijakan produksi OPEC+, tingkat persediaan minyak dunia, kebijakan pemerintah terkait energi, serta perkembangan teknologi seperti efisiensi energi dan sumber energi alternatif.

Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga minyak global berpotensi meningkatkan biaya impor energi, membebani anggaran, dan memicu inflasi. Dalam konteks ini, pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah mitigasi, antara lain mendorong efisiensi energi, mengembangkan sumber energi alternatif seperti energi terbarukan, serta menstabilkan harga energi di dalam negeri melalui instrumen kebijakan yang tersedia. Diversifikasi ekonomi juga disebut dapat mengurangi kerentanan terhadap gejolak harga komoditas global.

Secara keseluruhan, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi dunia. Risiko gangguan di Selat Hormuz menjadi sorotan karena dapat memicu lonjakan harga minyak dan berdampak luas pada ekonomi global, termasuk Indonesia.