BERITA TERKINI
Ketegangan Timur Tengah Guncang Pasar: Minyak Tembus US$100, Dolar Menguat, Won Tertekan

Ketegangan Timur Tengah Guncang Pasar: Minyak Tembus US$100, Dolar Menguat, Won Tertekan

Pasar keuangan dan energi global memasuki akhir Maret 2026 dengan volatilitas tinggi, dipicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dan dampak lanjutan terhadap inflasi serta pertumbuhan ekonomi. Sejumlah indikator utama—mulai dari harga minyak, nilai tukar, hingga harga bensin ritel—bergerak tajam, sementara bank sentral dan pemerintah merespons dengan langkah antisipatif.

Harga minyak dunia menguat pada 30 Maret. Minyak mentah Brent berada di jalur mencatat kenaikan bulanan rekor, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Penguatan ini terjadi setelah konflik yang melibatkan pasukan Houthi di Yaman dan Iran meluas, dengan serangan awal dilaporkan menargetkan Israel.

Dampak kenaikan harga energi juga tercermin di Amerika Serikat pada level konsumen. Pada 31 Maret, harga bensin rata-rata nasional melampaui US$4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata mencapai US$4,02 per galon, lebih dari US$1 lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik Timur Tengah. AAA mencatat level ini menjadi yang tertinggi sejak periode konflik Rusia–Ukraina pada 2022, meski di sejumlah negara bagian harga sudah lebih dulu melampaui ambang US$4 karena perbedaan pasokan dan pajak.

Di sisi kebijakan moneter, Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada 30 Maret menyampaikan bahwa bank sentral dapat sementara mengabaikan guncangan energi yang timbul dari konflik di Timur Tengah. Sikap “tunggu dan lihat” tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan terdorong menaikkan suku bunga lagi dalam waktu dekat.

Aliran dana ke aset aman turut mengangkat nilai tukar dolar AS. Dolar berada di jalur mencatat kenaikan bulanan terkuat sejak Oktober 2024, seiring investor berbondong-bondong ke mata uang cadangan utama dunia di tengah gejolak pasar energi. Indeks Spot Dolar Bloomberg tercatat naik sekitar 3% sepanjang Maret 2026, didukung arus dana ke aset aman dan posisi AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia.

Pergerakan mata uang juga menekan won Korea Selatan. Pada 31 Maret, won dibuka melemah terhadap dolar AS dan menyentuh level terendah dalam 17 tahun, dipicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat memicu gangguan pasokan minyak global dan efek ekonomi yang lebih luas. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 10 Maret 2009, ketika won sempat jatuh ke 1.561 won per dolar AS dalam sesi perdagangan saat Korea Selatan menghadapi krisis keuangan global.

Kenaikan biaya energi berpotensi menekan sektor-sektor yang sensitif terhadap harga bahan bakar, termasuk penerbangan. Maskapai penerbangan AS disebut menghadapi ujian stres keuangan pertama yang nyata sejak pandemi COVID-19 akibat lonjakan harga bahan bakar. Kondisi ini diperkirakan memicu perombakan pasar: perusahaan yang lebih lemah dapat terdorong mengurangi skala operasi, menambah utang, atau menanggung kerugian besar, sementara maskapai yang lebih kuat berpeluang memanfaatkan situasi untuk berinvestasi dan memperbesar pangsa pasar.

Di Asia, India mempercepat pengembangan energi terbarukan dan solusi penyimpanan listrik untuk mengantisipasi risiko kekurangan gas yang terkait dampak luas krisis Timur Tengah, di tengah lonjakan permintaan listrik pada musim panas. Untuk menjaga keamanan pasokan listrik, New Delhi juga memantau kemajuan proyek pembangkit listrik tenaga batu bara dan hidroelektrik yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Juni 2026. Pejabat India menegaskan sistem tenaga listrik saat ini tetap mampu memenuhi permintaan, meski terjadi penurunan pembangkit listrik tenaga gas.

Sementara itu, dinamika perdagangan global juga mencuat. Pada 30 Maret, Brasil memblokir perpanjangan kesepakatan bebas tarif untuk perdagangan elektronik di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kesepakatan yang berlaku sejak 1998 itu memungkinkan transaksi perdagangan elektronik lintas batas—termasuk perangkat lunak, konten digital, dan produk digital lainnya—dibebaskan dari tarif. Karena perpanjangan membutuhkan konsensus seluruh anggota WTO, keputusan Brasil untuk tidak lagi mendukung mekanisme tersebut mengganggu proses perpanjangan.

Rangkaian perkembangan ini menegaskan bagaimana eskalasi geopolitik dapat cepat merembet ke harga energi, nilai tukar, kebijakan moneter, hingga keputusan perdagangan, dengan konsekuensi yang dirasakan dari pasar keuangan sampai konsumen.