BERITA TERKINI
Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Energi Global, Pariwisata Bali Dinilai Paling Rentan

Ketegangan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Energi Global, Pariwisata Bali Dinilai Paling Rentan

Ketegangan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Selat tersebut merupakan jalur vital distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan ini berpotensi mendorong kenaikan harga energi secara global.

Kenaikan harga energi dapat berimbas pada sektor transportasi, terutama penerbangan. Bagi Indonesia, situasi ini dinilai bukan sekadar isu geopolitik, karena dampaknya berpotensi terasa hingga daerah yang ekonominya bergantung pada mobilitas, seperti Bali.

Di Bali, sektor pariwisata disebut sebagai titik paling sensitif terhadap gejolak energi. Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan kondisi saat ini masih terkendali. Namun, para pengamat politik menilai tetap ada risiko yang tidak selalu muncul secara langsung, melainkan berkembang melalui tekanan biaya dan gangguan mobilitas.

Pendiri Hey Bali sekaligus pelaku pariwisata, Giostanovlatto, menilai ketergantungan pariwisata Bali pada mobilitas membuatnya rentan terhadap kenaikan harga avtur atau pengurangan penerbangan. “Pariwisata Bali bergantung pada mobilitas, jika harga avtur naik atau penerbangan dikurangi, efeknya langsung terasa pada kunjungan wisatawan,” kata Giostanovlatto, Minggu (29/3/2026).

Menurutnya, dampak tersebut biasanya tidak terjadi secara drastis dalam satu waktu, melainkan bertahap. Ia menggambarkan potensi efek berantai mulai dari perlambatan kunjungan, penurunan pemesanan, berkurangnya lama tinggal wisatawan, hingga menyusutnya pengeluaran wisatawan. Kondisi itu, kata dia, dapat memengaruhi keseluruhan rantai ekonomi yang terkait dengan pariwisata.

Data menunjukkan sektor akomodasi serta makan-minum menyumbang lebih dari 20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali. Sementara jika dihitung lebih luas, aktivitas ekonomi yang terkait dengan pariwisata disebut dapat mencapai sekitar 75–80 persen dari keseluruhan ekonomi daerah.

Selain pariwisata, dampak krisis energi juga berpotensi menjalar ke biaya operasional dan distribusi. Dengan ketergantungan Bali pada pergerakan orang dan barang, tekanan harga energi dinilai dapat memengaruhi berbagai sektor yang menopang aktivitas ekonomi di daerah tersebut.