BERITA TERKINI
Ketegangan Selat Hormuz dan Anomali Arus Minyak ke China: Dampak pada Energi Global dan Pasar

Ketegangan Selat Hormuz dan Anomali Arus Minyak ke China: Dampak pada Energi Global dan Pasar

Ketegangan di Selat Hormuz kembali mengguncang pasar global. Di tengah kekhawatiran atas eskalasi konflik yang melibatkan AS-Israel dan Iran—serta meningkatnya biaya asuransi pelayaran bagi kapal-kapal Barat—arus minyak ke China disebut tetap berjalan deras. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar risiko gangguan pasokan energi berlaku merata bagi semua pihak.

Selat Hormuz sebagai jalur krusial energi dunia

Selat Hormuz kerap disebut sebagai salah satu titik paling strategis dalam rantai pasok energi global. Data dalam laporan tersebut menyebut sekitar 21 juta barel minyak per hari melintasi selat ini, setara dengan 21% konsumsi global. Selain minyak, lebih dari 20% pasokan LNG dunia—terutama dari Qatar—juga melewati jalur yang sama. Gangguan di kawasan ini, berdasarkan catatan historis yang dikutip, dapat menambah premi risiko sekitar US$10 hingga US$30 per barel pada harga minyak dunia.

Arus minyak Iran ke China di tengah ketegangan

Laporan itu menyoroti data yang disebut terjadi pada periode ketegangan Maret 2026, ketika Iran diklaim mengirim sedikitnya 11,7 juta barel minyak dalam waktu singkat dan hampir seluruhnya menuju China. Kondisi ini digambarkan sebagai “jalur khusus” yang membuat pasokan ke China relatif tetap mengalir, meski terdapat ancaman dan risiko terhadap pelayaran di kawasan.

Faktor hubungan Iran–China dan mekanisme perdagangan

Sejumlah faktor disebut menjelaskan mengapa China dapat mempertahankan impor minyak dari Iran. Pertama, adanya perjanjian strategis 25 tahun senilai US$400 miliar antara Teheran dan Beijing. Dalam narasi tersebut, China disebut berperan sebagai pembeli terakhir minyak Iran ketika sanksi AS menutup akses pasar lain. Mekanisme pembayaran juga disebut dilakukan menggunakan Yuan (CNY) melalui sistem yang diklaim independen sehingga tidak bergantung pada sistem Dollar (SWIFT).

Peran “dark fleet” dan diskon harga

Kedua, laporan itu menyebut pemanfaatan “dark fleet”, yakni ratusan tanker tua yang mematikan AIS. Praktik ini disebut membuat kapal dapat “menghilang” di sekitar Hormuz dan kemudian muncul di pelabuhan tujuan seperti Qingdao. Sebagai konsekuensinya, China disebut memperoleh diskon harga minyak Iran sekitar US$5 hingga US$10 di bawah harga Brent, meski risikonya terkait keselamatan dan transparansi pelayaran.

Terminal Jask dan upaya mengurangi ketergantungan pada Hormuz

Faktor ketiga adalah diversifikasi infrastruktur ekspor Iran melalui Terminal Minyak Jask yang berada di luar Selat Hormuz. Disebutkan Iran membangun jalur pipa Goreh–Jask sepanjang 1.000 km yang memungkinkan ekspor hingga 1 juta barel per hari tanpa melewati selat. Proyek ini dalam laporan tersebut disebut kerap mendapat dukungan teknis dari Tiongkok dan dinilai menjadi salah satu alasan akses China dianggap lebih diprioritaskan.

Implikasi bagi Amerika Serikat: tekanan ekonomi dan politik

Laporan itu juga menguraikan dampak situasi ini bagi Amerika Serikat. Jika harga minyak bertahan tinggi—misalnya di atas US$100 hingga US$120 per barel—AS disebut berisiko menghadapi stagflasi, yaitu pertumbuhan ekonomi yang melemah disertai inflasi tinggi. Kenaikan biaya energi dinilai dapat mendorong bank sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang secara historis menekan kinerja indeks S&P 500 dan Nasdaq.

Di sisi lain, Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS disebut berada pada level rendah pada 2026 setelah penggunaan besar-besaran sebelumnya. Kondisi ini dinilai mengurangi ruang manuver pemerintah AS untuk meredam lonjakan harga bensin saat krisis energi.

Laporan tersebut juga menyinggung dimensi geopolitik yang lebih luas: pembelian minyak menggunakan Yuan disebut sebagai sinyal tantangan terhadap dominasi Dollar AS dalam perdagangan komoditas. Dalam jangka panjang, pergeseran ini dinilai berpotensi menurunkan permintaan Dollar secara marginal dan memunculkan risiko devaluasi.

Dampak pada kelas aset dan sektor pasar

Dalam bagian analisis pasar, laporan itu memetakan sentimen terhadap sejumlah aset dan sektor. Emas disebut sangat diuntungkan sebagai aset safe haven ketika risiko geopolitik meningkat. Perak dinilai cenderung mengikuti penguatan emas, meski volatilitasnya lebih tinggi.

Saham energi—seperti ExxonMobil (XOM), Chevron (CVX), dan Occidental Petroleum (OXY)—disebut berpotensi positif karena margin laba perusahaan minyak besar dapat meningkat ketika harga Brent berada di atas US$100 per barel. Tembaga dinilai netral hingga positif, dengan argumen bahwa permintaan China untuk infrastruktur dapat menjaga harga meski konflik mengganggu logistik.

Aluminium disebut sangat positif karena proses produksinya boros energi; saat harga gas dan minyak naik, biaya produksi global meningkat dan mendorong harga jual. Sementara itu, saham-saham China dinilai netral hingga positif karena ekonomi China disebut memiliki bantalan cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel yang diklaim cukup untuk 3–4 bulan kebutuhan tanpa impor.

Di sisi lain, saham teknologi—diwakili indeks Nasdaq—disebut cenderung negatif karena suku bunga tinggi akibat inflasi energi dapat menekan valuasi saham bertumbuh. Sektor logistik seperti FedEx (FDX) disebut sangat negatif dalam pemetaan tersebut.

Kesimpulan: dunia yang makin terfragmentasi

Krisis Selat Hormuz pada 2026, sebagaimana digambarkan dalam laporan tersebut, memperlihatkan dinamika dunia yang semakin terfragmentasi. Di satu sisi, jalur ini tetap menjadi titik rawan yang memengaruhi harga energi global. Di sisi lain, arus minyak ke China disebut menunjukkan adanya jalur perdagangan yang dapat berjalan relatif stabil melalui kombinasi hubungan bilateral, mekanisme pembayaran, armada pengangkut, dan infrastruktur alternatif.

Situasi ini menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di jalur energi utama tidak selalu berdampak seragam pada seluruh negara, sekaligus memperlihatkan konsekuensi ekonomi dan politik yang meluas bagi pasar global.