Konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran baru bagi industri otomotif global. Ketegangan di Timur Tengah dinilai dapat memicu efek berantai, mulai dari kenaikan harga energi hingga gangguan rantai pasok kendaraan di berbagai negara.
Salah satu dampak yang paling cepat terasa adalah lonjakan harga minyak dunia. Setelah konflik memanas, harga minyak mentah sempat melonjak hingga melewati US$110 per barel, level yang terakhir terlihat pada 2022. Kenaikan harga energi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi kendaraan sekaligus biaya distribusi bagi produsen otomotif.
Dampak berikutnya dapat dirasakan langsung oleh konsumen. Harga bahan bakar yang lebih mahal kerap memengaruhi keputusan pembelian kendaraan, terutama di pasar yang masih didominasi mobil bermesin bensin atau diesel. Dalam situasi seperti itu, kendaraan yang lebih hemat bahan bakar—seperti hybrid atau mobil kecil—berpotensi lebih diminati dibandingkan SUV atau pickup berukuran besar.
Selain faktor energi, jalur logistik global juga menjadi perhatian. Ketegangan di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz, berpotensi mengganggu salah satu rute perdagangan penting dunia. Jalur laut tersebut selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak dan berbagai komoditas industri, sehingga gangguan di wilayah itu dapat mendorong kenaikan biaya logistik bagi pabrikan otomotif.

