BERITA TERKINI
Ketegangan Hormuz Memanas, Bab el-Mandeb Muncul sebagai Titik Rawan Baru Perdagangan dan Energi Global

Ketegangan Hormuz Memanas, Bab el-Mandeb Muncul sebagai Titik Rawan Baru Perdagangan dan Energi Global

Ketegangan di Selat Hormuz di tengah perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus menekan arus energi global. Perkembangan terbaru menunjukkan munculnya titik rawan kedua setelah Yaman menyatakan keterlibatannya dalam konflik, yakni Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang berpengaruh langsung terhadap perdagangan internasional, biaya pengiriman, serta aliran minyak dan gas menuju pasar Eropa.

Situasi perang di kawasan disebut memasuki fase baru. Setelah mengalami kemunduran dalam konfrontasi langsung, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mulai mengalihkan tekanan ke serangan terhadap infrastruktur strategis, disertai kemungkinan pembukaan opsi invasi darat.

Di tengah perkembangan itu, Ansarullah Yaman secara resmi mengumumkan keterlibatannya dan menyatakan keberpihakan kepada Iran. Operasi awal kelompok tersebut mencakup serangan rudal dan pesawat nirawak ke wilayah pendudukan Israel. Namun, bobot strategis Yaman dinilai tidak hanya terletak pada operasi militer, melainkan juga pada posisi geografisnya yang menguasai salah satu koridor maritim terpenting dunia.

Seorang pejabat senior Ansarullah menyatakan seluruh opsi masih dipertimbangkan, termasuk kemungkinan menutup Selat Bab el-Mandeb bagi kapal-kapal milik negara yang terlibat dalam agresi. Pernyataan ini mengarah pada koridor pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab, serta menjadi penghubung utama antara Asia, Tanduk Afrika, dan Eropa melalui Terusan Suez.

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Disebutkan lebih dari 8 juta barel minyak melewati selat ini setiap hari, dan 58 kapal yang membawa gas alam cair (LNG) juga dilaporkan melintasi rute tersebut.

Dari sisi perdagangan barang, sekitar 40 persen perdagangan antara Asia dan Eropa bergerak melalui jalur ini. Rute tersebut juga menopang sekitar 20 persen perdagangan maritim global untuk beras, 20 persen untuk gandum, serta 40 persen perdagangan pupuk melalui jalur laut. Nilai tahunan barang dan jasa yang diangkut melalui Bab el-Mandeb diperkirakan melampaui 800 miliar dolar AS, mendekati 1 triliun dolar AS.

Konsekuensi ekonomi dari gangguan di jalur ini dinilai besar karena terbatasnya alternatif yang efisien. Ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia menuju Eropa melalui Terusan Suez tetap harus melewati Bab el-Mandeb. Alternatif dengan memutar melalui ujung selatan Afrika menuju Selat Gibraltar atau Eropa utara disebut dapat memperpanjang waktu pengiriman hingga delapan sampai sembilan hari, yang pada gilirannya meningkatkan biaya transportasi dan menurunkan efisiensi rantai pasok global.

Arab Saudi selama ini berupaya mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz dengan membangun jalur pipa yang mengangkut minyak dari wilayah timurnya ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah, sehingga sebagian ekspornya dapat melewati Hormuz. Namun, jalur pipa tersebut secara geografis disebut tetap berada dalam ruang jangkau Yaman. Jika terganggu, kapasitas ekspor minyak Saudi diperkirakan dapat menurun tajam dan menambah tekanan pada pasokan energi regional.

Kombinasi tekanan di Selat Hormuz dan potensi penutupan Bab el-Mandeb menciptakan kendala ganda pada arus energi dunia. Dampaknya juga merembet ke perdagangan barang, termasuk komoditas pangan dan bahan baku industri.

Dalam situasi yang kian sensitif, Angkatan Laut Eropa menetapkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang tidak terkait dengan Amerika Serikat atau Israel pada level “sedang” dan mendesak seluruh kapal komersial serta tanker untuk menjauhi perairan Yaman. Peringatan tersebut dikeluarkan oleh misi Angkatan Laut Eropa, Aspides, yang beroperasi di Teluk Aden. Pasukan Eropa di kawasan disebut tetap berada dalam kondisi siaga penuh sambil memantau perkembangan.

Gangguan sekecil apa pun di jalur ini diperkirakan dapat memicu kenaikan biaya transportasi, lonjakan premi asuransi, dan mendorong harga barang lebih tinggi di pasar Eropa maupun Asia. Kapal-kapal yang hendak melewati Terusan Suez dan Laut Merah kini dihadapkan pada pilihan mengambil jalur lebih panjang dan mahal melalui Tanjung Harapan, atau tetap melintas dengan risiko serangan yang lebih tinggi.

Perkembangan ini juga menegaskan bahwa Iran, dengan mengandalkan sekutu-sekutu regionalnya, disebut memiliki kemampuan untuk memberi pengaruh langsung atas dua titik rawan energi paling penting di dunia. Dalam skenario yang lebih luas, jika operasi Yaman meluas hingga mencakup serangan ke negara-negara tetangga di Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC), konsekuensinya diperkirakan akan lebih berat, termasuk potensi eskalasi konflik yang lebih intens, merusak, dan meluas dibanding gelombang konflik sebelumnya.

Secara keseluruhan, apabila operasi Yaman terus berkembang, tekanan terhadap keamanan perdagangan dan energi yang terhubung dengan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan meningkat tajam, sekaligus memunculkan perubahan penting dalam dinamika maritim kawasan dan dampaknya terhadap ekonomi global.