Memanasnya konflik geopolitik di sejumlah kawasan kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah menimbulkan perhatian terhadap keamanan jalur perdagangan minyak, terutama di Selat Hormuz, yang berpotensi memengaruhi harga energi global dan memunculkan spekulasi soal ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah memastikan pasokan BBM nasional tetap aman. Sejumlah langkah antisipatif disiapkan bersama badan usaha energi untuk menjaga ketahanan energi, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diiringi peningkatan mobilitas masyarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan cadangan BBM nasional masih berada pada tingkat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Meski stok dinyatakan aman, pemerintah tetap mewaspadai potensi koreksi harga minyak dunia seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya apabila jalur distribusi minyak global terganggu.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial dalam perdagangan energi dunia. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada 2024, setara sekitar seperlima konsumsi minyak global, dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar 500 miliar dolar AS.
Sejumlah produsen minyak utama di Timur Tengah—termasuk Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab—mengandalkan jalur tersebut untuk menyalurkan ekspor energi ke berbagai kawasan, seperti Asia, Amerika Utara, dan Eropa. Ketegangan militer di kawasan itu sempat memunculkan kekhawatiran gangguan distribusi, diikuti penyesuaian rute oleh sebagian perusahaan pelayaran. Maersk, misalnya, dilaporkan menangguhkan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz hingga situasi dinilai lebih kondusif. Sejumlah operator logistik lain disebut memilih jalur alternatif memutar melalui ujung selatan Afrika, meski berimplikasi pada kenaikan biaya pengiriman.
Meski demikian, sejumlah analis energi menilai kemungkinan penutupan total Selat Hormuz relatif kecil karena adanya kekuatan militer yang dapat menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional. Namun, risiko gangguan sporadis terhadap kapal tanker tetap diakui dapat terjadi dan berpotensi memengaruhi rantai pasokan minyak global.
Di dalam negeri, penguatan distribusi energi terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, terutama menjelang arus mudik Lebaran. Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) menyiapkan infrastruktur layanan yang mencakup 1.482 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), 900 unit Pertashop, serta 1.216 agen LPG. Selain itu, 644 SPBU dioperasikan selama 24 jam, didukung 921 agen LPG Siaga untuk melayani wilayah dengan mobilitas tinggi.
Untuk memperkuat layanan, disiapkan pula 10 titik layanan BBM dan Kiosk Pertamina Siaga di lokasi strategis. Distribusi bergerak dihadirkan melalui 36 unit Motorist atau Pertamina Delivery Service (PDS) yang ditujukan menjangkau kawasan permukiman maupun jalur wisata. Di jalur padat kendaraan, 17 unit mobil tangki disiagakan sebagai kantong suplai tambahan guna mengantisipasi lonjakan konsumsi di titik-titik tertentu.
Selain aspek pasokan, fasilitas pendukung bagi pemudik juga disediakan melalui Serambi MyPertamina di sejumlah rest area dan pusat keramaian. Fasilitas ini dilengkapi layanan seperti ruang ibu dan anak, mini klinik, area bermain anak, hingga layanan potong rambut.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan. Panic buying dinilai dapat memicu kelangkaan semu akibat distribusi yang menjadi tidak merata. Pembelian BBM disarankan dilakukan secara bijak sesuai kebutuhan agar stabilitas distribusi tetap terjaga.
Dengan pengamanan stok dan penguatan distribusi yang telah disiapkan, pemerintah dan pelaku usaha energi meyakini stabilitas pasokan BBM nasional dapat tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global. Ketahanan energi yang stabil diharapkan mendukung kelancaran aktivitas masyarakat serta menjaga stabilitas perekonomian selama Ramadan dan Idulfitri.

