Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dibalas dengan perlawanan. Perkembangan ini memperjelas situasi yang mengarah pada perang terbuka, menyusul memanasnya tensi antarnegara dalam beberapa pekan terakhir.
Bagi perekonomian global, konflik tersebut memicu kekhawatiran kenaikan harga minyak dunia. Iran merupakan produsen minyak yang menyumbang sekitar 5% pasokan minyak mentah global.
Risiko pasar juga membesar karena sekitar 20% aliran minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang berada dekat wilayah Iran. Setiap ancaman penutupan selat sempit ini dinilai cepat memicu kenaikan premi risiko di pasar energi.
Menurut laporan Bloomberg, gangguan navigasi turut terjadi di kawasan tersebut. Jean-Charles Gordon, direktur senior pelacakan kapal di Kpler—perusahaan riset energi—menyatakan ratusan hingga ribuan kapal mengalami gangguan navigasi sejak Jumat, saat Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran.
“Lintang dan bujur yang mereka terima benar-benar salah,” kata Gordon, seraya menambahkan bahwa data lalu lintas maritim menunjukkan posisi kapal yang tidak normal dan tidak akurat.

