Lonjakan kapal tanker asing di Selat Malaka disebut menjadi sinyal bergesernya dampak krisis global dari Timur Tengah ke Asia Tenggara. Ketegangan di Selat Hormuz yang dipicu konflik di Iran mendorong perubahan jalur distribusi energi dunia, sekaligus menempatkan Indonesia pada posisi strategis namun dinilai rentan.
Dalam waktu singkat, arus pelayaran tanker dilaporkan meningkat tajam. Setidaknya 42 kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) tercatat mengalihkan rute dari Teluk Persia menuju Samudra Hindia melalui Selat Malaka. Kondisi ini memicu lonjakan waktu tunggu kapal hingga berjam-jam, menandakan tekanan besar terhadap kapasitas jalur pelayaran tersebut.
Situasi turut disorot setelah data radar maritim mendeteksi sedikitnya 12 kapal yang diduga bagian dari “armada gelap” mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) saat melintasi perairan Aceh. Praktik mematikan AIS kerap dikaitkan dengan aktivitas ilegal, termasuk penyelundupan energi di tengah gejolak harga minyak global.
Ketua Umum Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia, Bachtiar Nasir, menilai fenomena tersebut sebagai peringatan dini krisis global. “Ketika Hormuz terganggu, dunia tidak punya banyak pilihan selain bergeser ke Malaka. Ini bukan sekadar kepadatan kapal, tapi tanda bahwa sistem distribusi energi global sedang dalam tekanan serius,” ujarnya pada Rabu, 15 April 2026.
Ia juga menyebut sekitar 70 persen kebutuhan energi negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan bergantung pada jalur Selat Malaka. Karena itu, peningkatan aktivitas pelayaran dinilai berpotensi memicu risiko keamanan. “Kalau tidak diantisipasi, Indonesia bisa menjadi titik rawan baru konflik. Kita bukan hanya menghadapi kemacetan laut, tapi juga potensi pelanggaran kedaulatan,” katanya.
Krisis di Selat Hormuz dipicu eskalasi militer di Iran yang meningkatkan status siaga kawasan, termasuk ancaman penutupan jalur vital tersebut. Dampaknya disebut langsung terasa di pasar global, ditandai lonjakan harga minyak serta terganggunya distribusi energi.
Dengan perubahan rute pelayaran dan meningkatnya intensitas lalu lintas tanker, Selat Malaka kini menjadi salah satu titik perhatian utama dalam dinamika keamanan dan logistik energi kawasan.