Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperluas kebijakan tarif serta sanksi terhadap Beijing. Perkembangan ini mulai mengguncang rantai pasok global, terutama pada sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), teknologi, dan mineral strategis.
Berdasarkan laporan Reuters pada Selasa, 6 Mei 2026, konflik dagang terbaru tidak lagi terbatas pada tarif barang konsumsi seperti pada periode pertama Trump. Perselisihan kini meluas ke sektor energi, rare earth, kendaraan listrik, semikonduktor, serta teknologi strategis lainnya.
Reuters melaporkan pemerintahan Trump mulai menjatuhkan sanksi terhadap kilang-kilang di China yang membeli minyak Iran. Kebijakan ini memicu respons keras dari Beijing.
China kemudian disebut mulai menggunakan undang-undang anti-sanksi untuk melawan daftar hitam AS dan menyiapkan pembatasan ekspor teknologi panel surya. Beijing juga memanfaatkan dominasinya dalam rantai pasok mineral kritis sebagai alat tekanan dalam konflik dagang terbaru ini.
Menurut Reuters, China memiliki posisi kuat dalam rare earth dan mineral strategis. Mineral tersebut merupakan bahan penting bagi industri kendaraan listrik, baterai, elektronik, hingga teknologi pertahanan. Ketergantungan industri global pada pasokan dari China membuat eskalasi ketegangan dagang memunculkan kekhawatiran baru terkait stabilitas rantai pasok manufaktur dunia.
Reuters menilai perang dagang kali ini lebih kompleks dibandingkan konflik pada periode pertama Trump karena kini melibatkan geopolitik, energi, dan teknologi tinggi secara bersamaan. AS juga terus berupaya mengurangi ketergantungan industrinya terhadap China melalui relokasi manufaktur dan pembatasan investasi.
Di sisi lain, Beijing dilaporkan memperluas pasar ekspornya ke Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS.
Meski hubungan kedua negara kembali memanas, komunikasi tingkat tinggi masih berlangsung. Reuters menyebut Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng beberapa kali melakukan pembicaraan untuk menjaga stabilitas hubungan ekonomi. Namun, kedua pihak tetap saling menuduh melanggar kesepakatan dagang yang sebelumnya dicapai dalam sejumlah perundingan internasional.
Situasi geopolitik di Timur Tengah turut memperumit hubungan AS-China. Reuters melaporkan perang Iran meningkatkan ketegangan geopolitik dan memperbesar tekanan terhadap perdagangan global serta pasokan energi dunia. Trump bahkan sempat menunda rencana kunjungannya ke Beijing akibat perang Iran sebelum kemudian dijadwalkan ulang pada Mei.
Ketegangan dagang terbaru ini mulai mempengaruhi industri otomotif global, terutama sektor kendaraan listrik yang dinilai sangat bergantung pada rantai pasok China. China masih mendominasi pasokan rare earth, bahan baku baterai, dan berbagai komponen penting kendaraan listrik dunia. Karena itu, konflik dagang AS-China dinilai berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi serta mempercepat relokasi manufaktur global ke negara-negara alternatif di Asia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini dinilai memiliki dua sisi. Di satu sisi, konflik dagang dapat membuka peluang masuknya investasi manufaktur dan kendaraan listrik ke Asia Tenggara. Namun di sisi lain, gangguan rantai pasok global juga berpotensi meningkatkan tekanan biaya bagi industri domestik.