Ketegangan di Timur Tengah yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai belum berdampak langsung terhadap ketahanan pangan Indonesia. Meski demikian, situasi tersebut tetap perlu diantisipasi apabila konflik berlangsung berkepanjangan dan memicu gangguan pasokan global.
Ketua Dewan Pakar DPP Pemuda Tani Indonesia, Bayu Dwi Apri Nugroho, mengatakan potensi gangguan terhadap rantai pasok global harus menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, konflik global dapat menjadi momentum untuk mempercepat kemandirian pangan nasional agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya tanpa bergantung pada negara lain.
“Kalau konflik ini terus berlanjut, mungkin nanti akan berpengaruh. Tetapi sisi positifnya, Indonesia didorong untuk lebih cepat mencapai swasembada pangan,” ujar Bayu dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jumat, 13 Maret 2026.
Bayu menilai sejumlah program pemerintah telah mengarah pada penguatan produksi pangan nasional. Program yang dimaksud antara lain optimalisasi lahan, pencetakan sawah baru, serta modernisasi pertanian melalui mekanisasi.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan produktivitas di tengah menurunnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Karena itu, modernisasi alat dan teknologi pertanian dinilai diperlukan agar produksi tetap tinggi.
Selain faktor geopolitik, sektor pertanian menghadapi potensi kemarau panjang tahun ini. Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau diprediksi mulai April dan berpotensi berlangsung cukup lama.
Untuk menghadapi ancaman kekeringan, Bayu menyebut tiga langkah yang dapat dilakukan. Pertama, memperkuat komunikasi antara penyuluh pertanian dan petani di lapangan. Ia menyebut rata-rata petani berusia di atas 50 tahun sehingga memerlukan pendampingan, termasuk dalam menerima informasi cuaca dan strategi tanam yang tepat.
Kedua, mendorong inovasi teknologi pertanian, salah satunya melalui pengembangan varietas tanaman yang tahan kekeringan namun tetap berproduksi tinggi. Ketiga, memastikan informasi cuaca tersedia hingga tingkat desa, mengingat kondisi cuaca tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia.
Bayu juga menilai ketahanan pangan seharusnya dimulai dari tingkat rumah tangga. Masyarakat dapat memanfaatkan lahan kosong untuk menanam sayuran secara mandiri, termasuk dengan metode hidroponik. “Ketahanan pangan harus dimulai dari rumah tangga, kemudian RT, desa, hingga tingkat nasional,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan bahwa dinamika geopolitik global dapat menjadi peluang untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Tasyakuran HUT ke-1 Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Prabowo menilai sejarah menunjukkan negara yang mampu beradaptasi saat krisis akan menjadi lebih kuat. Menurutnya, tekanan global dapat mendorong percepatan agenda pembangunan strategis. “Krisis menurut saya adalah blessing in disguise yang memaksa kita mempercepat berbagai agenda pembangunan strategis,” kata Prabowo.
Ia menilai Indonesia memiliki keunggulan melalui sumber daya alam yang melimpah, termasuk di sektor pertanian, perkebunan, dan energi terbarukan. Sektor-sektor tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan impor.

