BERITA TERKINI
Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Dorong Kenaikan Harga Minyak Global, Sekutu Barat Diminta Lebih Aktif

Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Dorong Kenaikan Harga Minyak Global, Sekutu Barat Diminta Lebih Aktif

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak global. Gangguan pada salah satu jalur distribusi minyak dunia itu turut mendorong kenaikan harga bahan bakar, tidak hanya di AS tetapi juga di berbagai negara lain.

Dampaknya turut dirasakan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Situasi di Selat Hormuz dinilai berpengaruh terhadap kelancaran pasokan, sehingga memicu tekanan pada harga energi.

Selain konflik yang memanas, kemampuan militer Iran menjadi salah satu pertimbangan bagi negara-negara Barat, termasuk NATO, untuk mengambil langkah lebih jauh. Iran disebut memiliki sejumlah kapabilitas seperti penggunaan drone, ranjau laut, dan rudal anti-kapal yang dinilai dapat memperumit upaya pembukaan kembali akses pelayaran.

Dalam kondisi tersebut, sejumlah sekutu AS di Eropa dilaporkan masih enggan terlibat langsung dalam upaya membuka kembali akses Selat Hormuz. Sikap itu menuai kritik dari Senator AS Lindsey Graham, yang memperingatkan adanya konsekuensi terhadap hubungan aliansi jika sekutu tetap pasif.

Sementara itu, dalam operasi militer yang berlangsung pada Selasa (17/3/2026) waktu setempat, AS menggunakan bom GBU-72 Advanced Penetrator. Senjata itu dirancang untuk menghancurkan target yang berada jauh di bawah tanah atau terlindungi kuat.