BERITA TERKINI
Ketahanan Pangan Jadi Prioritas di Tengah Krisis Global 2026, Pemerintah Dorong Kemandirian

Ketahanan Pangan Jadi Prioritas di Tengah Krisis Global 2026, Pemerintah Dorong Kemandirian

Di tengah dinamika global yang kian kompleks pada 2026, isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan banyak negara, termasuk Indonesia. Konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta tekanan perubahan iklim mendorong sejumlah negara memperketat kebijakan ekspor komoditas pangan strategis. Situasi ini berdampak pada stabilitas pasokan dan harga pangan dunia, sekaligus memperkuat urgensi Indonesia untuk mempercepat kemandirian pangan.

Pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas dalam agenda pembangunan nasional. Ketahanan pangan dipahami tidak hanya sebagai ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mencakup akses masyarakat, stabilitas harga, dan keberlanjutan sistem produksi. Dalam konteks krisis global, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan negara.

Data hingga awal 2026 menunjukkan produksi pangan nasional, khususnya beras, mengalami peningkatan yang dinilai cukup signifikan. Produksi domestik disebut mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional sekaligus memperkuat cadangan pangan pemerintah. Perkembangan ini menjadi indikator bahwa kebijakan peningkatan produktivitas pertanian mulai menunjukkan hasil.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan ketahanan pangan sebagai fondasi penting untuk menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian global. Ia menekankan pentingnya Indonesia berdiri di atas kekuatan sendiri dengan memastikan kebutuhan pangan rakyat dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, sejalan dengan arah strategis percepatan swasembada pangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai peningkatan produksi harus terus didorong melalui optimalisasi lahan dan pemanfaatan teknologi pertanian modern. Menurutnya, produktivitas menjadi faktor kunci untuk menjaga keberlanjutan sistem pangan nasional, terlebih ketika tantangan perubahan iklim semakin tidak menentu.

Upaya penguatan ketahanan pangan dijalankan melalui berbagai program prioritas, antara lain pengembangan kawasan food estate, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta peningkatan akses petani terhadap pembiayaan dan teknologi. Pemerintah juga berupaya memperbaiki sistem distribusi pangan agar lebih efisien dan merata di seluruh wilayah.

Di sisi lain, stabilitas harga pangan menjadi perhatian dalam menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah melakukan intervensi, termasuk penguatan cadangan pangan dan pelaksanaan operasi pasar, dengan tujuan menjaga harga tetap terjangkau tanpa merugikan produsen.

Transformasi sektor pertanian juga menjadi bagian dari strategi yang ditempuh. Digitalisasi pertanian dan pemanfaatan teknologi berbasis data diharapkan meningkatkan efisiensi produksi serta membantu pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran, sehingga sektor pertanian dinilai dapat lebih adaptif menghadapi perubahan global.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan ketahanan pangan berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia berpandangan ketergantungan terhadap impor perlu dikurangi secara bertahap agar Indonesia memiliki daya tahan lebih kuat terhadap gejolak global. Dalam kerangka tersebut, kemandirian pangan diposisikan sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Meski begitu, tantangan ke depan dinilai tidak ringan. Perubahan iklim yang semakin ekstrem berpotensi mengganggu pola produksi, sementara alih fungsi lahan pertanian menjadi ancaman serius terhadap keberlanjutan produksi. Pemerintah menyadari penguatan ketahanan pangan perlu dilakukan secara terintegrasi dengan kebijakan lingkungan dan tata ruang.

Krisis global saat ini juga dipandang sebagai momentum mempercepat reformasi struktural di sektor pangan. Ketergantungan pada impor dinilai tidak lagi menjadi pilihan aman dalam jangka panjang, sehingga kebijakan diarahkan untuk memperkuat produksi domestik dan meningkatkan daya saing pertanian nasional.

Pemerintah turut mendorong kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan dunia usaha, akademisi, dan masyarakat untuk membangun sistem pangan yang efisien dan berkelanjutan. Kemitraan strategis diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk pangan sekaligus memperluas akses pasar.

Dalam konteks global, Indonesia juga mendorong kerja sama internasional di bidang pangan. Namun, pemerintah menekankan bahwa kemandirian nasional tetap menjadi prioritas utama, sebagai upaya menyeimbangkan keterbukaan dengan ketahanan menghadapi tantangan global.

Dengan berbagai langkah yang telah dijalankan, pemerintah menyatakan optimistis Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk memperkuat ketahanan pangan. Konsistensi kebijakan dan dukungan berbagai elemen dinilai akan menentukan terwujudnya sistem pangan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan pada masa mendatang.