BERITA TERKINI
Kesenjangan Perlindungan Siber di Asia-Pasifik Melebar, Praktik Aman Daring Dinilai Belum Sejalan

Kesenjangan Perlindungan Siber di Asia-Pasifik Melebar, Praktik Aman Daring Dinilai Belum Sejalan

Kesenjangan perlindungan siber di kawasan Asia-Pasifik (APAC) dilaporkan semakin melebar. Banyak konsumen memperkirakan kejahatan siber akan berdampak pada rumah tangga mereka, namun praktik keamanan daring yang dijalankan dinilai belum sekuat persepsi mereka.

Laporan Lanskap Keamanan Siber APAC 2026 oleh bolttech mencatat 85 persen responden menilai kebiasaan keselamatan daring mereka baik atau sangat baik. Namun, hanya 44 persen yang secara konsisten mempraktikkan perilaku keamanan daring yang kuat. Temuan ini menunjukkan adanya selisih 41 persen antara praktik keselamatan yang dirasakan dan yang sebenarnya.

Di saat yang sama, 39 persen responden menyatakan pernah menjadi korban kejahatan dunia maya. Hampir dua pertiga responden, atau 64 persen, juga memperkirakan seseorang di rumah mereka akan menjadi korban kejahatan dunia maya dalam satu tahun ke depan.

Risiko tersebut dinilai meningkat seiring penggunaan kecerdasan buatan dalam penipuan. Sebanyak 92 persen responden meyakini pemanfaatan AI akan membuat penipuan semakin sulit dideteksi.

Paparan terhadap kejahatan dunia maya disebut berbeda di tiap wilayah. Negara berkembang seperti Filipina, Vietnam, Thailand, dan Indonesia melaporkan paparan penipuan dan insiden siber yang lebih tinggi. Sementara itu, negara maju termasuk Korea Selatan dan Jepang mencatat tingkat kepercayaan yang lebih rendah terhadap institusi dan penyedia layanan dalam menjaga keamanan data pribadi.

Dari sisi dampak finansial, kerugian akibat kejahatan dunia maya dilaporkan memengaruhi rumah tangga di berbagai pasar. Separuh responden di negara berkembang menyebut pernah mengalami kejahatan dunia maya, dan 71 persen dari para korban tersebut melaporkan mengalami kerugian finansial.

Di negara maju, insiden dilaporkan lebih jarang terjadi, namun biayanya lebih besar. Sekitar satu dari empat korban disebut kehilangan lebih dari US$500 per insiden.

Studi ini juga mencatat meningkatnya permintaan terhadap layanan perlindungan siber, termasuk produk terkait asuransi. Di seluruh kawasan, 71 persen responden menyatakan bersedia membayar untuk solusi perlindungan siber. Konsumen berpendapatan lebih tinggi cenderung memilih cakupan yang lebih komprehensif, seperti pemantauan dan peringatan, layanan perlindungan keluarga, dukungan insiden 24/7, serta cakupan atas kerugian finansial.