Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa eskalasi perang di Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi terdahsyat dalam beberapa dekade terakhir dan mengancam stabilitas ekonomi global.
Dalam pidatonya di National Press Club, Birol menggambarkan situasi saat ini sebagai kondisi yang “sangat parah” seiring berlanjutnya perang antara AS-Israel dan Iran. Ia membandingkan guncangan pasokan energi yang terjadi sekarang dengan krisis minyak bersejarah pada era 1970-an.
Birol menyinggung dua krisis minyak berturut-turut pada 1970-an, ketika dunia kehilangan sekitar lima juta barel per hari pada masing-masing krisis. Jika digabungkan, gangguan pasokan saat itu mencapai 10 juta barel per hari.
Menurut Birol, data terbaru menunjukkan gangguan pasokan saat ini lebih besar. “Hingga hari ini, kita telah kehilangan 11 juta barel per hari, jadi ini lebih besar daripada gabungan dua guncangan minyak utama sebelumnya,” ujarnya.
Ia menekankan dampak krisis kali ini bersifat global. Birol memperingatkan tidak ada negara yang akan kebal dari dampaknya karena gangguan energi berpotensi menyebar luas dan menekan perekonomian dunia.
Di tengah perang yang memasuki minggu keempat, Presiden AS Donald Trump dan Iran sama-sama menyampaikan ancaman balasan. Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz yang diblokir. Selat ini dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.
Kemacetan di jalur sempit tersebut dilaporkan hampir menghentikan seluruh pengiriman minyak bumi melalui Selat Hormuz, dan harga minyak pun melonjak.
Pada Senin (23/3) pagi, harga minyak naik setelah Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi kehancuran infrastruktur energinya. Pada saat yang sama, Israel memperingatkan perang masih akan berlanjut selama beberapa pekan.
Tak lama setelah pembukaan perdagangan pukul 22.00 GMT, harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 1,8 persen menjadi sedikit di atas US$100 per barel, sebelum turun tipis. Sementara itu, harga Brent Laut Utara untuk pengiriman Mei juga naik dengan laju yang sama menjadi US$113,44 per barel, lalu turun ke sekitar US$111 sekitar 45 menit setelah perdagangan dimulai.
Sebagai pembanding, pada 27 Februari—sehari sebelum serangan AS-Israel dimulai terhadap Iran—harga WTI dan Brent masing-masing berada di level US$67,02 dan US$72,48 per barel.

