Kempalan menilai perang Iran versus Israel yang melibatkan Amerika Serikat tidak akan mampu memicu krisis energi dan krisis ekonomi global seperti yang banyak diperkirakan sebelumnya. Menurutnya, salah satu dampak yang semula diprediksi para analis—yakni kebangkitan kembali supremasi petrodolar melalui kenaikan harga minyak dan pencetakan dolar untuk membiayai ekonomi dunia—tidak akan terjadi karena perang tersebut dinilai gagal menciptakan krisis energi.
Ia menyebut konflik ini sebagai rangkaian dari sejumlah perang sporadis sebelumnya, seperti Rusia versus Ukraina di Eropa serta konflik Amerika Serikat versus Venezuela. Dalam pandangannya, rangkaian konflik tersebut membawa tema yang sama: upaya mengembalikan minyak bukan hanya sebagai bahan bakar, melainkan sebagai pengatur ekonomi dunia sekaligus “mesin pencetak uang”.
Namun Kempalan berpendapat, jika perang tidak berhasil mengganggu pasokan minyak secara signifikan, maka upaya menciptakan krisis keuangan dan ekonomi juga akan sulit terwujud. Ia mempertanyakan bagaimana krisis keuangan dapat terjadi tanpa krisis energi, serta bagaimana otoritas moneter seperti The Federal Reserve dapat memulihkan legitimasi dalam mencetak uang jika krisis ekonomi global tidak terbentuk.
Dari sisi pasokan, ia menekankan bahwa minyak dari Selat Hormuz disebut hanya menyumbang sekitar 20% pasokan minyak global. Pada saat yang sama, ia menyatakan kontribusi energi nonfosil di tingkat global juga telah mendekati 20%. Dengan komposisi tersebut, ia menilai dunia kini semakin “kebal” terhadap upaya pihak tertentu yang ingin memanfaatkan minyak untuk menciptakan krisis.
Kempalan juga menyinggung perkembangan menuju era energi yang disebutnya “free energi”. Meski menyatakan kondisi itu belum terlihat saat ini, ia menyebut sudah ada komunitas global yang memperlihatkan karya-karya yang diklaim mampu menghasilkan listrik gratis tanpa bahan bakar fosil. Karena itu, ia berkesimpulan krisis minyak tidak mudah diwujudkan melalui perang.
Ia mengaitkan pandangannya dengan pengalaman pandemi Covid-19, yang menurutnya menunjukkan upaya menciptakan krisis dapat berantakan dan kemudian dilupakan. Dalam konteks Indonesia, ia menyoroti bahwa setiap kali terjadi wabah, konflik, atau perang, harga komoditas yang menjadi andalan ekonomi Indonesia justru cenderung naik. Ia mencontohkan pada masa Covid-19, harga batu bara sempat naik hingga 400 dolar AS per ton, dan menyebut kenaikan komoditas juga terjadi dalam situasi perang saat ini.
Meski demikian, ia menegaskan Indonesia bukan pengatur dinamika global tersebut dan menyatakan Indonesia selalu ingin berbuat baik bagi dunia sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945. Ia menyimpulkan bahwa selama Indonesia tidak ikut terseret dalam krisis, kondisi akan tetap baik-baik saja, bahkan jika Amerika Serikat dan Iran “bersatu” sekalipun, menurutnya, tidak akan sanggup menciptakan krisis energi dan krisis ekonomi global.
Di sisi lain, Kempalan menyampaikan pesan agar pemerintah memastikan kenaikan harga komoditas kali ini dapat menjadi “tabungan” untuk pembangunan ekonomi nasional dan untuk mendukung upaya membantu perdamaian dunia. Ia menyebut hal itu sebagai hal yang perlu dipastikan oleh Presiden Prabowo Subianto.

