Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyatakan akan memperkuat skema kemitraan dan integrasi rantai pasok melalui program Holding UMKM. Program ini disebut akan dioptimalkan dan diperluas pada 2026 sebagai upaya memperkuat struktur usaha nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rahman mengatakan, pihaknya akan mengembangkan sedikitnya lima klaster strategis pada 2025, yakni sepak bola, pariwisata, pertanian, makan bergizi gratis, serta kesehatan dan kecantikan.
Untuk klaster sepak bola, Bagus menyebut telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman pada awal Desember antara Kementerian UMKM, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Dalam Negeri. “Kami sepakat memperkuat ekosistem sepak bola melalui pemberdayaan UMKM. Sepak bola dipilih sebagai proyek percontohan dan selanjutnya akan dikembangkan ke cabang olahraga lainnya,” ujar Bagus di Jakarta, Selasa, 16 Desember 2025.
Bagus menambahkan, sepanjang 2025 Kementerian UMKM telah menjalankan program Holding UMKM melalui sejumlah klaster, seperti fesyen, kriya (handicraft), serta kelautan dan perikanan. Pada klaster kelautan dan perikanan, program ini melibatkan 600 pemindang ikan. Sementara itu, pada klaster fesyen terdapat 550 pengrajin dan reseller yang terlibat, serta 150 pengrajin pada klaster kriya.
Melalui program Holding UMKM, pengusaha menengah diharapkan dapat berperan sebagai poros penghubung bagi usaha mikro dan kecil dalam klaster yang sama. Menurut Bagus, langkah ini ditujukan untuk memperkuat akses pembiayaan, pendampingan, dan pemasaran agar pertumbuhan usaha dapat berlangsung lebih berkelanjutan.
“Usaha menengah diharapkan mampu membantu menyelesaikan berbagai tantangan yang kerap dihadapi usaha mikro dan kecil, seperti kendala produksi, keterbatasan akses pembiayaan, belum optimalnya standardisasi mutu, serta lemahnya integrasi rantai pasok,” ujarnya.
Selain penguatan kemitraan, Kementerian UMKM juga menargetkan optimalisasi pembiayaan inovatif bagi usaha menengah pada 2026 melalui skema yang terstruktur, terkurasi, serta berbasis pada kesiapan finansial dan potensi usaha. Bagus menyebut pada tahun sebelumnya terdapat 56 usaha menengah yang terpilih dalam skema pembiayaan tersebut, yang merupakan hasil kolaborasi dengan sejumlah lembaga keuangan perbankan dan nonperbankan.
Bagus juga mengatakan program RISE to IPO, yang bertujuan memberi kesempatan bagi usaha menengah untuk melantai di bursa, akan kembali diselenggarakan pada 2026 di Surabaya, Bandung, dan Makassar. Pada tahun sebelumnya, program ini dilaksanakan di Jakarta dan Semarang dengan total 128 perusahaan yang lolos proses kurasi dan mengikuti rangkaian seminar.

