BERITA TERKINI
Kementan: Hilirisasi CPO Dinilai Bisa Tekan Impor Solar dan Perkuat Ekonomi

Kementan: Hilirisasi CPO Dinilai Bisa Tekan Impor Solar dan Perkuat Ekonomi

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan hilirisasi kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi strategi penting untuk memperkuat ekonomi nasional, mendorong kemandirian energi, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Indonesia, sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global, dinilai memiliki posisi strategis untuk memperkuat sektor hilir dan mengendalikan rantai nilai industri sawit.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, mengatakan Indonesia tidak semestinya hanya mengekspor bahan mentah. Menurutnya, hilirisasi CPO merupakan langkah untuk mentransformasi Indonesia dari pemasok bahan baku menjadi produsen produk bernilai tambah yang dibutuhkan pasar global.

Arief menjelaskan, pengolahan CPO dapat menghasilkan beragam produk turunan, mulai dari pangan olahan seperti margarin, kosmetik, sabun, oleokimia, hingga bioenergi. Penguatan industri hilir ini disebut dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Dengan penguasaan lebih dari 60 persen pasar CPO dunia, ia menilai Indonesia memiliki daya tawar dalam menentukan arah pasokan dan harga produk turunan sawit global.

Kementan juga menempatkan hilirisasi sawit sebagai fondasi untuk kemandirian energi melalui pengembangan biodiesel B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan solar. Arief menyatakan pemanfaatan biofuel sawit secara optimal berpotensi menggantikan impor solar secara signifikan. Ia menyebut, jika implementasi B50 berjalan penuh, Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor solar dan dapat memenuhi kebutuhan energi dari sumber daya dalam negeri.

Pernyataan Kementan ini sekaligus merespons framing yang dinilai tidak utuh terhadap pernyataan Menteri Pertanian terkait dinamika geopolitik global, termasuk ilustrasi penutupan Selat Hormuz. Kementan menekankan bahwa jalur tersebut merepresentasikan sekitar 20 persen distribusi minyak dunia dan ilustrasi itu bukan prediksi krisis, melainkan gambaran bahwa gangguan pasokan global dapat berdampak pada harga energi.

Dalam konteks tersebut, Kementan menilai Indonesia memiliki keunggulan strategis. Dengan dominasi produksi CPO dunia, Indonesia dipandang berpotensi memiliki pengaruh lebih besar pada pasar energi alternatif berbasis nabati apabila hilirisasi dikelola secara optimal, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam percaturan ekonomi global.

Pemerintah menghitung implementasi biodiesel B50 membutuhkan sekitar 5,3 juta ton CPO. Volume itu dapat dialihkan dari ekspor untuk diolah menjadi biofuel, sehingga berpotensi menggantikan impor solar, menghemat devisa, dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Kinerja sektor sawit nasional juga disebut menunjukkan tren positif. Berdasarkan rilis resmi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada 13 Maret 2026, produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai 51,66 juta ton, meningkat 7,26 persen atau sekitar 3,5 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Total produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) tercatat 56,55 juta ton, naik 7,18 persen.

Di sisi perdagangan, ekspor produk sawit pada 2025 tercatat 32,34 juta ton, naik 9,51 persen, dengan nilai mencapai US$35,87 miliar atau sekitar Rp590 triliun, meningkat 29,23 persen. Kementan menyebut kenaikan ini ikut mendorong kesejahteraan petani, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,45 pada Februari 2026. Peningkatan produksi dan ekspor juga disebut mendorong NTP subsektor perkebunan ke level tertinggi.

Kementan menilai hilirisasi sawit mampu meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan. Nilai tambah disebut berkisar 3 hingga lebih dari 30 kali lipat dibandingkan mengekspor CPO mentah. Secara umum, hilirisasi dinilai dapat meningkatkan nilai ekonomi 3–10 kali lipat, sementara produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan oleokimia tertentu dapat melampaui 30 kali lipat.

Pengembangan industri hilir sawit disebut telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan, mencakup pangan, kosmetik, bahan kimia, hingga bioenergi. Transformasi ini dinilai tidak hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga meningkatkan harga di tingkat petani, memperluas lapangan kerja, dan menciptakan efek ekonomi berantai.

Selain sawit, Kementan juga menyoroti penguatan produksi beras nasional dan dampaknya pada dinamika pangan dunia. Harga beras internasional, seperti beras Thailand 5 persen, tercatat turun dari sekitar US$660 per ton pada awal 2024 menjadi sekitar US$368 per ton pada akhir 2025, atau turun sekitar 44 persen. Kementan menyebut faktor pendorongnya antara lain peningkatan produksi global pada kisaran 540–550 juta ton dan kembalinya ekspor negara besar, serta perubahan permintaan global.

Dalam periode 2023–2024, Indonesia mengimpor sekitar 7,5 juta ton beras. Namun pada 2025, impor tersebut disebut praktis berhenti seiring peningkatan produksi nasional yang mencapai sekitar 34,69 juta ton, naik lebih dari 13 persen. Dengan volume perdagangan beras dunia sekitar 50–55 juta ton per tahun, berkurangnya permintaan Indonesia sekitar 3–4 juta ton per tahun dinilai setara 5–7 persen pasar global dan memberi tekanan pada harga internasional.

Kondisi itu disebut diperkuat oleh cadangan beras nasional yang mencapai sekitar 4,3 juta ton pada awal 2026, yang dinilai mengirimkan sinyal bahwa Indonesia tidak lagi menjadi pembeli besar dalam jangka pendek. Kementan menyimpulkan dinamika harga beras dunia mencerminkan kombinasi peningkatan pasokan global dan penyesuaian permintaan, termasuk dari Indonesia.

Arief menyatakan kebijakan hilirisasi yang didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merupakan bagian dari strategi pembangunan nasional berbasis pertanian, dengan nilai tambah tertinggi berada di sektor hilir. Kementan menyatakan akan terus mendorong percepatan investasi hilirisasi serta memperkuat sinergi dengan pelaku usaha untuk mencapai target kemandirian dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.