Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat ketahanan industri nasional untuk mengantisipasi potensi dampak eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terhadap kinerja manufaktur dan ekonomi Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas harga energi global, mengganggu jalur perdagangan internasional, serta meningkatkan biaya logistik dan bahan baku industri.
“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting. Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia menilai salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap sektor industri adalah potensi gangguan distribusi energi global, termasuk apabila terjadi penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Agus menyebut sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.
Menurut Agus, kenaikan harga energi global akan berdampak langsung pada industri manufaktur karena energi menjadi salah satu komponen utama biaya produksi di sebagian besar sektor. “Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya.
Selain energi, konflik geopolitik juga dinilai berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku industri dari pasar global. Agus menyebut sejumlah sektor di Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor, antara lain industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, serta industri makanan dan minuman.
Gangguan pada jalur perdagangan internasional juga berpotensi memengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur, mengingat konflik geopolitik kerap memicu volatilitas pasar global.
Untuk menjaga ketahanan industri nasional, pemerintah menyiapkan langkah mitigasi, antara lain penguatan struktur industri hulu, peningkatan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta diversifikasi pasar ekspor. “Penguatan industri hulu dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri menjadi sangat penting agar industri manufaktur Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan global yang rentan terhadap gejolak geopolitik,” kata Agus.
Pemerintah juga mendorong peningkatan efisiensi energi di sektor industri serta percepatan transformasi menuju industri hijau guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya dipengaruhi dinamika geopolitik.
Di sisi lain, Kemenperin terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, asosiasi, serta kementerian dan lembaga terkait, untuk memastikan manufaktur tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi global.
Agus menambahkan, pemerintah menyiapkan langkah strategis lain untuk memitigasi dampak konflik melalui penguatan ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, program tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional, dengan industri manufaktur berperan mendukung penyediaan sarana produksi pertanian, industri pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan teknologi energi.
Ia juga menekankan peran strategis sektor industri dalam memperkuat ketahanan energi, termasuk melalui pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan, produksi komponen pembangkit listrik, pengembangan kendaraan listrik, serta industri petrokimia yang menjadi bagian penting dari rantai pasok energi.
“Kemenperin terus mendorong penguatan industri hulu dan hilir agar Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan strategis nasional, termasuk di bidang pangan dan energi. Dengan struktur industri yang semakin kuat, Indonesia akan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gejolak ekonomi global akibat konflik geopolitik,” kata Agus.
Agus menyatakan optimistis bahwa penguatan struktur industri nasional serta dukungan terhadap program ketahanan pangan dan energi dapat menjaga pertumbuhan dan daya saing manufaktur Indonesia meski menghadapi berbagai tantangan global.

