BERITA TERKINI
Kemenperin Nilai Konflik Timur Tengah Tidak Signifikan Ganggu Industri Agro, Namun Waspadai Biaya Logistik

Kemenperin Nilai Konflik Timur Tengah Tidak Signifikan Ganggu Industri Agro, Namun Waspadai Biaya Logistik

Jakarta — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja industri agro nasional. Penilaian tersebut didasarkan pada struktur pasokan bahan baku industri agro yang mayoritas bersumber dari dalam negeri maupun negara lain di luar kawasan konflik.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan industri agro Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap gejolak geopolitik global karena bertumpu pada sumber daya domestik. Ia menegaskan bahan baku utama industri agro tidak terkait langsung dengan konflik di Timur Tengah.

Menurut Putu, sebagian besar bahan baku industri agro—mulai dari minyak goreng, produk pangan olahan, hingga komoditas berbasis pertanian—dipasok dari dalam negeri. Karena itu, konflik di Timur Tengah dinilai tidak secara langsung mengganggu ketersediaan bahan baku bagi industri tersebut.

Ia menambahkan, kebutuhan impor bahan baku untuk industri agro pada umumnya juga tidak berasal dari negara-negara di Timur Tengah. Sebagai contoh, gula industri seperti gula rafinasi lebih banyak diimpor dari Australia, Thailand, dan kawasan Amerika Latin. Sementara bahan baku impor lainnya disebut sudah terlebih dahulu masuk ke dalam negeri sebelum konflik terjadi.

Meski demikian, Putu mengakui konflik geopolitik global tetap berpotensi memunculkan dampak tidak langsung, terutama pada aspek biaya distribusi. “Dampaknya lebih kepada biaya pengangkutan atau logistik,” ujarnya.

Kemenperin, kata Putu, terus memantau perkembangan situasi global untuk mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok maupun perubahan biaya logistik akibat dinamika geopolitik. Ia juga menyebut kementerian telah menyiapkan alternatif agar dampaknya tidak besar terhadap industri agro.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan konflik di Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas harga energi global, gangguan jalur perdagangan internasional, serta peningkatan biaya logistik dan bahan baku industri. Ia menegaskan pemerintah terus memonitor perkembangan konflik karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia sekaligus jalur logistik global yang penting.