Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengimbau pelaku industri nasional melakukan efisiensi dan penghematan energi secara terencana di tengah meningkatnya risiko krisis global, terutama akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menyampaikan, dinamika konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi mengganggu jalur perdagangan strategis dunia, termasuk Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi energi global.
“Potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga energi global perlu diantisipasi sejak dini oleh pelaku industri. Salah satunya melalui langkah efisiensi energi agar operasional tetap berjalan optimal,” kata Febri di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, penghematan energi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus meminimalkan dampak terhadap biaya operasional industri di tengah ketidakpastian global.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, kinerja industri manufaktur nasional disebut masih menunjukkan ketahanan. Hal itu tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026 yang berada pada level 51,86 atau masih dalam fase ekspansi.
Namun, Kemenperin mencatat laju pertumbuhan industri mulai melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Perlambatan ini seiring normalisasi permintaan setelah periode hari besar keagamaan serta adanya penyesuaian produksi akibat penumpukan stok.
Selain faktor global, tekanan juga datang dari meningkatnya biaya logistik dan harga bahan baku. Kondisi tersebut memengaruhi sejumlah subsektor, terutama industri yang bergantung pada impor bahan baku dan energi.
Karena itu, Kemenperin mendorong pelaku industri tidak hanya menekan konsumsi energi, tetapi juga memperkuat ketahanan melalui diversifikasi sumber bahan baku serta penguatan rantai pasok dalam negeri.
“Kami mendorong industri untuk lebih adaptif, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat struktur industri dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah disebut terus mengoptimalkan pasar domestik sebagai penopang utama pertumbuhan industri nasional, sekaligus menjaga utilisasi kapasitas produksi tetap stabil.
Febri menambahkan, pelaku industri dalam negeri dinilai memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis global sebelumnya sehingga diharapkan mampu beradaptasi terhadap tantangan saat ini.
“Dengan langkah efisiensi dan strategi yang tepat, industri nasional diharapkan tetap tumbuh dan berdaya saing di tengah dinamika global,” kata Febri.

