BERITA TERKINI
Kemenkeu Nilai Yield SBN Masih Terkendali di Tengah Gejolak Global, Spread Bertahan Sekitar 243 bps

Kemenkeu Nilai Yield SBN Masih Terkendali di Tengah Gejolak Global, Spread Bertahan Sekitar 243 bps

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan pasar Surat Berharga Negara (SBN) tetap tangguh dan terkendali di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut dinilai mendorong investor meminta tingkat imbal hasil (yield) yang lebih tinggi, sekaligus memberi tekanan pada berbagai instrumen keuangan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto mengatakan dinamika global saat ini memang menekan pergerakan yield SBN. Menurutnya, kondisi serupa juga berdampak pada instrumen lain seperti pasar saham dan nilai tukar rupiah.

“Namun sebagaimana kita lihat, pergerakan yield SBN juga cukup moderat, terkendali, dan kita jaga volatilitasnya. Levelnya pada saat ini juga masih pada level yang cukup baik,” ujar Suminto dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (11/3/2026).

Suminto menegaskan tekanan di pasar obligasi domestik terutama berasal dari sentimen eksternal yang juga dirasakan negara lain. Ia menilai, bila dibandingkan dengan negara-negara sekelas (peers), kinerja pasar SBN Indonesia pascaledakan konflik Israel-AS dan Iran masih terhitung sangat baik.

Berdasarkan data Kemenkeu per 10 Maret 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,52%, sementara yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun tercatat 4,09%. Secara akumulasi sejak awal tahun (year to date/YtD), yield SBN naik 55 basis poin (bps).

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memantau indikator spread, yakni selisih imbal hasil antara SBN tenor 10 tahun dan UST tenor yang sama. Indikator ini disebut penting untuk mengukur tingkat kepercayaan investor global terhadap fundamental perekonomian Indonesia.

“Saat ini spread tersebut berada di sekitar 243 basis point [bps],” kata Suahasil.

Suahasil menambahkan, level spread Indonesia tersebut relatif rendah dan dinilai lebih baik dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya. Dalam data yang sama, spread obligasi Brasil tercatat 964 bps, Kolombia 891 bps, Meksiko 484 bps, Afrika Selatan 437 bps, dan India 252 bps terhadap UST.

Kemenkeu menyatakan akan terus menerapkan strategi pengelolaan utang dan kas yang dinamis agar biaya dana tetap efisien. “Itu [spread] yang kita coba tahan terus di sekitar 240 basis point tersebut, sebagai tanda bahwa kita punya tingkat kepercayaan yang tinggi dalam pengelolaan ekonomi kita,” tutup Suahasil.