BERITA TERKINI
Kemendag Jajaki Pemasok Nafta dari AS dan Afrika akibat Ketidakpastian Timur Tengah

Kemendag Jajaki Pemasok Nafta dari AS dan Afrika akibat Ketidakpastian Timur Tengah

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengupayakan diversifikasi negara pemasok bahan baku plastik berupa nafta untuk industri plastik dalam negeri. Langkah ini ditempuh seiring keterbatasan nafta di kalangan industri yang dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui adanya kelangkaan bahan baku plastik yang berdampak pada kenaikan harga kemasan plastik di pasaran. Menurutnya, kesulitan pasokan terjadi karena sumber nafta selama ini didominasi negara-negara pemasok dari Timur Tengah.

“Kami mencari alternatif dari India, Amerika, dan Afrika,” kata Budi Santoso di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (14/4/2026).

Budi menyebut pemerintah masih dalam proses negosiasi dengan pihak di masing-masing negara tersebut. Ia menilai pembahasan rantai pasok menjadi tantangan, mengingat waktu pengiriman dari negara alternatif berpotensi lebih panjang dibandingkan distribusi dari Timur Tengah.

“Ini memerlukan waktu. Sekarang masih memproses dengan stok yang ada. Sebab, ini berpindah, dan sekarang kondisi perang, sehingga mungkin pengapalannya agak lambat,” ucap Budi.

Selain India, Amerika, dan negara-negara di Afrika, pemerintah juga berupaya mencari pasokan dari Singapura, Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand. Namun, Budi belum dapat memastikan kapan realisasi distribusi nafta dari sumber-sumber tersebut akan sampai ke Indonesia.

“Namun ini kan banyak yang force majeure. Ini memang krisis global terkait keterbatasan bahan baku,” ujarnya.

Sementara itu, Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengingatkan adanya risiko pada sisi distribusi apabila pasokan nafta dialihkan dari Timur Tengah ke negara lain seperti India, kawasan Afrika, dan Amerika.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menilai rantai pasok nafta dari Timur Tengah selama ini relatif singkat, yakni sekitar 10 hingga 15 hari. Adapun pengiriman dari luar kawasan tersebut diperkirakan akan memerlukan waktu lebih panjang.

“Kalau di luar Middle East butuh waktu 50 hari paling cepat. Sehingga kita harus hitung ulang karena rantai pasoknya pasti akan tambah panjang,” kata Fajar, Minggu (5/4/2026).